Laman

Wednesday, 10 July 2024

Jatuh Hati (part 11)

Jatuh Hati (part 11)


"Bagaimana bisa rasa kagum bertahun-tahun tidak pernah sedikitpun memudar. Saat melihat wajah yang sama namun sedikit berbeda, lebih mempesona tepatnya. Dia tetap seseorang yang masih kusimpan rapih dalam sisi hati tertentu. Nyatanya mencintai tanpa memiliki itu lebih penting daripada memiliki namun berpotensi kehilangan.

Tapi sejauh ini aku masih di tahap jatuh hati, bukan jatuh cinta."


---


22 Juli 2021 4:57 PM


Untuk pertama kalinya aku bertanya siapa dirimu, dan plot twistnya adalah kamu sudah tau diriku sejak lama. 


24 April 2022 4:56 AM


Saat keadaanku yang sedang tidak baik-baik saja, aku malah teringat akan dirimu yang setelah sekian lama terlupakan. 


7 Juli 2024 8:38 PM


Terakhir kali bertemu, setelah berkali-kali bertemu, setelah kesekian kalinya aku berkata dengan penuh rasa sadar bahwa aku tidak ingin lagi bertemu bahkan mencari tau tentang dirimu. 

Tapi selalu saja ada waktu yang tidak bisa diajak kompromi, waktu, waktu yang mempertemukan kita dengan segala kesempatan tanpa terduga yang hingga akhirnya aku masih tetap kalah dengan tatapan mata juga canda tawa khasmu. 


Jatuh hati kepadamu adalah sebuah keputusan tergila yang pernah aku lakukan.

Dengan penuh kesabaran, aku melawan segala kewarasan untuk berani menjatuhkan hatiku kepadamu.

Aku membawa namamu di dalam dialog mesra diantara aku dan Sang Pemberi rasa.

Aku tidak meminta dirimu seutuhnya, karena cinta bukanlah paksaan apalagi tujuan.

Aku hanya meminta agar kamu selalu baik-baik saja, sebab rasa bukanlah ego semata.

Karena kamu adalah wujud rasa yang sederhana yang pernah aku punya.


Aku adalah tipe orang yang ketika aku sudah ada rasa kepada seseorang, rasaku kepadanya bukan rasa sayang yang setengah-setengah. Maka ketika aku benar-benar menyimpan rasa kepada seseorang itu benar-benar memberikan semua hatiku kepadanya. 

Semua hal-hal baik yang bisa aku berikan kepadanya baik itu support atau apapun itu untuk dia, dengan semua caraku memperlakukan dia dengan baik, semua itu aku berikan kepadanya aku berusaha untuk

mempertahankan dia sebaik-baiknya dengan cara yang aku punya.

Makanya ketika aku jatuh hati kepadanya, aku takut karena aku itu aslinya bisa sedalam itu yang kalau aku sudah menemukan satu orang yang aku rasa layak, aku bisa melakukan apa saja untuk bisa membuat dia bertahan denganku, entah hanya sekedar sapa atau saling lempar senyum tanpa suara. 

Ketika aku sudah menjalani ikatan yang sangat tidak main-main, tapi pada akhirnya aku dikecewakan oleh ekspektasiku, aku juga yakin kalau rasa kecewa itu ada, rasa kecewa yang sama tidak main-mainnya juga. Makanya ketika jatuh sedalam-dalamnya, terluka juga sedemikian hebat dan sedemikian parahnya.

Atau, mungkinkah aku sudah ada di tahap sayang? 

Ah, rasanya tidak. 


Aku masih menginginkannya hingga saat ini, bahkan setelah berkali-kali perpisahan karena banyaknya pertemuan. Rasanya dirimu masih ada disini, setiap proses yang aku lewati sendiri tanpa kamu sampai sekarang aku tidak pernah bisa untuk melupakanmu sedikit pun. Menghilangkan kamu dalam hidupku itu rasanya tidak mungkin dan akan terasa sakit, sampai akhirnya dimana aku sadar, semua ini tidak akan pernah berakhir. Setelah perpisahan kemarin, aku tidak pernah lagi baik-baik saja tanpa kamu. Hidupku tidak ada spesialnya sama sekali, tidak ada lagi bahagia ketika aku berpikir apakah harus aku pergi dari sini entah kemana nantinya.


Setiap hari aku hanya pura-pura baik di depan orang-orang, tapi nyatanya aku hancur, entahlah aku tidak tau kenapa aku begini, entah karena aku yang terlalu menyimpan rasa yang dalam atau rasa yang kamu berikan disini terlalu hebat, aku tidak tau. Yang jelas kamu masih jadi alasan untuk aku tidak berhenti memikirkanmu.

Kalau dibilang aku masih berharap kamu memiliki perasaan yang sama, iya masih. Hanya saja bedanya aku lebih memilih diam dan tidak menunjukan itu semua, selain yang aku tau kita mustahil untuk lebih dekat dari ini, aku juga tidak mau merusak kebahagiaanmu sekarang.


Hiduplah dengan bahagia. Perihal aku, aku akan melewati semua ini sendiri, aku akan terus menunggumu entah sampai kapan, kamu masih pemenangnya, kamu masih menjadi orang yang aku tunggu, semua ini tidak pernah hilang, kapanpun kamu mau memberi respon dan rasa yang sama, datanglah, ungkapkanlah, apapun versimu, rasaku kepadamu masih sama seperti dulu saat pertama kali bertemu tidak akan pernah berubah, sampai kapanpun.


Bahkan jika kamu ingin mengajakku bertemu atau sekedar menghubungiku, entah seminggu, sebulan, setahun, dua tahun ke depan atau bahkan lima tahun sekalipun juga seumur hidupmu, aku akan tetap menemuimu, aku akan tetap membalas pesan dan mengangkat telfon darimu. Karena kamu akan selalu abadi dalam setiap langkah perjalanan cerita yang aku punya. Kamu pernah menemani masa susah dan senangku. Kamu pernah memberiku semangat ketika semua orang berkata bahwa itu mustahil. Kamu pernah mangajakku tertawa ketika duniaku sedang tidak baik baik saja. Kamu pernah menjadi bagian indah yang pernah semesta berikan padaku.

Entah bagaimana akhir dari cerita ini, bersama denganmu atau berakhir melihatmu bersama dengan pilihanmu nantinya, tapi aku akan senang melihatmu bahagia, senang bisa bertemu denganmu dalam keadaan yang baik, meski tidak denganku, setidanya doaku sampai kepada-Nya. 


---


Aku masih disini, bukan untuk menunggumu.

Melainkan menikmati sisa-sisa rindu, yang entah akan redup seiring berjalannya waktu atau semakin menggebu.


Berbahagialah, aku akan melihatmu dari kejauhan sambil membersihkan serpihan harapan yang kubuat sendiri.

Karena aku akan tetap menjatuhkan hatiku kepadamu, ya, aku masih jatuh hati padamu.

Saturday, 8 June 2024

Jatuh Hati (part 10)

Jatuh Hati (part 10)


"Tidak ada yang sempurna sampai kamu jatuh cinta dengan mereka."

Plot-nya adalah aku tidak pernah jatuh cinta kepada mereka selain hanya sebatas jatuh hati, itu pun terjadi jika aku yang mau dan semuanya berlaku hingga aku yang memutuskan juga dalam ranah kapasitasku.


---


Punya 3 blog rudet juga. Yang satu tidak mungkin dan tidak akan pernah di spill, yang satu lagi Hidupku Just My Life aka "Nugraha is My Name" dengan alur cerita yang membosankan karena aku tidak bisa share di WhatsApp, tentu saja. Dan blog yang ini khusus ceritaku bersama orang-orang yang besar kemungkinannya akan selalu ada di setiap tulisan yang aku post. 


Sudah beberapa hari ini aku bertemu dengan orang di part ke 7

Aku pernah berkata agar kita mengalir saja, tidak perlu saling menggenggam. Aku takut nanti ada yang patah hati lagi. Kalau kamu butuh, aku ada. Kalau kamu rindu, aku disini. Hiduplah seperti sebelum kamu mengenalku. Karena aku pun akan memperlakukanmu seperti itu. 

Tapi memang salahku yang tidak pernah menutup hati untuk siapa pun. Bahkan dengan terang-terangan aku juga mengatakan untuk menerima yang datang entah siapa pun itu, termasuk kamu. 

Kita sudah pernah membuat cerita, dan aku pikir ceritaku bersamamu sudah usai. Tapi pada kenyataannya berkali-kali kamu selalu mendatangiku tanpa kontak atau kabar bahkan permisi terlebih dahulu, hingga menapakkan kedua kakimu di depan pintuku. 

Aku tidak bisa mengabaikan muka memelasmu itu, aku tidak bisa pura-pura tidak mengenalimu, aku tidak bisa membohongi perasaanku yang dengan sadar bahwa ketika aku sedang bersama orang lain pun terkadang masih memikirkanmu.


Aku bukan pribadi yang munafik untuk mengakui bahwa kamu juga sama seperti mereka. Mereka yang sama-sama masih dengan jelas berada dan tinggal dalam ingatan juga pikiranku bahkan dalam hatiku. Aku bisa dengan mudah untuk mengingat nama-nama kalian dari saat pertama aku mengenal apa itu kehidupan sampai ketika aku tidak lagi peduli apa itu rasa bahagia dan rasa sedih, hingga berakhir dengan langkahku yang tau dan mengerti bahwa cinta adalah hal terpenting yang harus aku hindari, dan aku mampu melakukannya. Karena aku bisa menyayangi seseorang dengan sebatas bukan lantas, karena semuanya hanya sebatas jatuh hati bukan lantas jatuh cinta. 


Hari Jum'at tanggal 7 Juni jam 2 siang, kamu datang dengan wajah muram yang sedikit  tertutupi oleh gerimis kecil kota Bandung. 

Dengan sengaja kamu membawa si Angga bocah kematian yang datang ketika butuh duit buat jajan doang, mungkin kamu jemput dia dulu agar aku tidak ada alasan untuk tidak membukakan pintu 'kan?

"Om, si Om Fz poho deui kadieu cenah. Om menta duit." ------ Wtf!!! 

Sejak kapan kamu dimensia? 

Bulan Mei juga rasanya baru berlalu beberapa hari. Masih ingat jelas rasanya kamu selalu duduk bersila memandangi jendela. Atau spot dimana kamu selalu bersandar sambil mendengarkan lagu juga bercerita bagaimana keadaanmu selama ini. 

Ayolah! Kenapa setiap kali bertemu sisi kekanak-kanakanmu selalu terlihat jelas? Selalu! 


Setelah bercerita semuanya, seperti biasa kita selalu menghabiskan waktu untuk mengelilingi tempat-tempat yang biasa kita datangi dulu. Tempat dimana terkadang ketika aku melewatinya bersama orang lain pun tidak pernah hilang ingatan bersamamu. 

Mungkin akan terdengar berlebihan, tapi pada kenyataannya ketika aku bersamamu pun aku masih bisa memikirkan orang lain. 

Aku sudah bukan di fase ingin menemani kesedihan dan kegembiraan orang lain lagi, karena semuanya hanya seperti udara bagiku.

Kalian memang ada, tapi aku tidak mampu untuk menggenggam, kalian memang aku butuhkan tapi aku tidak bisa melihat, aku tidak bisa menolak apalagi mengabaikan atau berlagak seolah kalian tidak pernah memberiku kehidupan, karena faktanya adalah kalian pernah ada disaat aku sedang hancur dan membantuku untuk kembali bangkit walaupun kemudian langkahku kembali tak lagi terarah karena mataku seperti anjing yang lapar. 


Aku bukan orang yang tepat untuk kembali dijadikan sebagai pasangan apalagi diajak untuk sebuah komitmen. Karena aku tidak mementingkan hal-hal seperti itu lagi. 

Makanya aku sudah mengatakan bahwa kita tidak perlu saling menggenggam lagi, aku takut akan ada hati yang patah lagi, entah itu hatiku atau hatimu. Tapi, kalau kamu butuh teman untuk berbicara dalam keadaan apapun, kamu tau dimana aku berada. Kalau kamu perlu orang untuk sebuah nasihat, aku selalu berusaha bijak entah itu sebagai teman atau kakak dan mungkin berlagak seperti ahli ibadah walau sesaat. 

Kamu cukup mengenalku dalam hal berkamuflase 'kan? 


Kamu fokus saja dengan orang yang baru, aku juga sedang belajar untuk fokus dengan kehidupanku dan beberapa orang yang lama juga yang baru. 


See you.


---


Pada akhirnya, yang benar-benar penting adalah bagaimana kamu menjalani hidupmu sendiri. Jadi lanjutkan, nikmatilah, jadilah orang yang kamu inginkan selama itu tidak merugikan orang lain. 

Wednesday, 5 June 2024

Jatuh Hati (part 9)

Jatuh Hati part (9)


Biarkan kosong, aku tidak ingin menyukai

seseorang lagi.

Biarkan kosong, aku tidak ingin lagi menyakiti diriku sendiri.

Biarkan kosong, aku tidak ingin memberi kesempatan kepada siapapun lagi.

Biarkan kosong, aku tidak ingin berharap pada apa yang tidak akan pernah menjadi milikiku.

Andai semudah itu. Karena pada kenyataannya aku masih jatuh hati kepadamu...juga kepada mereka.


---


Aku tau semuanya akan berakhir dengan sebuah kegagalan dan kesakitan, tapi aku merasa bahagia melakukan semua itu. Ini bukan tentang seberapa banyak kegagalan dan kesakitan yang akan aku lalui, tapi tentang seberapa kuat aku menjalani dan menerima semuanya. Dan faktanya aku selalu mampu melewatinya.


Ketika aku gagal dengan orang yang lama, apakah aku harus meninggalkannya? 

Ketika aku sakit dengan orang yang baru, apakah aku harus menggantikannya? 

Aku pikir tidak harus. Karena aku bukan pribadi yang menyukai perpisahan dan meninggalkan kenangan. Apalagi terpaksa harus melupakan banyak hal yang pernah terjadi entah itu sebentar atau waktu yang cukup lama.


Ketika aku gagal dengan orang yang lama dan ada saat dimana aku sedang memperbaiki hubungan dengannya, mungkin terasa cukup sulit karena sudah menyangkut karakter yang tidak bisa dia ubah dan hal itu tidak dapat aku terima. Mau tidak mau aku harus mengikuti alur yang ada, karena aku tidak akan pernah mau meninggalkannya hanya karena satu karakter yang ujung-ujungnya besar kemungkinan akan aku temui pada orang yang baru juga. 

Lantas kenapa aku selalu bertemu dengan orang yang baru? 


Namanya juga hidup, namanya juga manusia, namanya juga hubungan, namanya juga hati, namanya juga perasaan, dan semuanya tergantung waktu yang membawa ke bagian mana hingga akhirnya harus bertemu dengan siapa dan berakhir dengan sebuah jawaban yang sebelumnya sudah bisa aku duga akan seperti apa nantinya. Tapi aku menyukai dan menikmati proses itu. Karena aku pernah ada di fase paling berbahaya, yaitu ketika aku tidak merasakan apapun lagi. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Tapi yang ada hanya rasa hampa, dan kekosongan. 

Makanya aku selalu memilih untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak aku lakukan pun akan baik-baik saja. Tapi ada rasa khawatir jika suatu waktu aku bertemu dengan fase hampa dan kekosongan lagi. 


Segala hal yang terjadi dalam hidupku memang sudah seharusnya terjadi. Aku bertemu siapa, siapa yang aku sukai, siapa yang menyakitiku, dan siapa yang mengecewakanku. Semua sudah pasti ada sebab dan akibatnya. 

Selalu ada masa dimana aku mengagumi seseorang, jika bukan Dia yang menggerakkan hatiku, maka Dia ingin aku mengenalnya, dan bukan berarti dia akan menjadi takdirku. Entah dia datang sebagai pembelajaran atau menjadi sebuah ujian dalam hidupku. 

Mungkin memang ada sedikit keinginan untuk memilikinya, tapi sama halnya dengan menyukai laut yang tidak berarti harus menyelaminya. Begitupun dengan menyukai seseorang yang tidak harus memilikinya. 


Aku tidak munafik untuk mengakui bahwa aku pernah mengagumi bahkan menyukai seseorang seperti air laut, hatiku sudah pasang surut kerena pergulatan perasaanku sendiri, dan sayangnya air laut tidak pernah berubah rasa. 

Sama halnya dengan perasaanku. Entah sejauh apapun aku pergi untuk berlari agar tidak pernah bertemu dengannya lagi, entah bersembunyi dibalik logika untuk mencari yang baru, tapi perasaanku padanya tidak pernah berubah. Bahkan seiring berjalannya waktu, rasaku bukan malah memudar melainkan malah bertambah dan terus terpupuk dengan kerinduan yang semakin hari semakin mendalam.


Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika dia benar-benar mengetahui bahwa aku masih mengaguminya, menyukainya, jatuh hati padanya, bahkan selalu menginginkan untuk di dekatnya. 

Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu dia menerimaku dan aku bahagia akan momen itu tapi akan merasa sedih karena pada akhirnya akan ada sebuah perpisahan, atau dia menolakku dan aku merasa kecewa karena sudah mengungkapkannya hingga dia menjauh dan aku terus menyesali keputusanku, dan hal terburuk yang akan terjadi adalah aku akan kehilangan dia untuk selama-lamanya.

Makanya untuk sampai saat ini aku memilih untuk terus memendam semuanya hingga rasaku berubah menjadi keputusasaan juga kesia-siaan yang terus aku pertahankan. 


Aku akan tetap mengaguminya sampai pada titik paling lelahku, sampai pada saat dia yang memberi isyarat agar aku menjauhinya, hingga rasa sukaku berubah menjadi rasa tau diri.


---


Coba sekali saja kamu lihat ke arah mataku, lihatlah betapa kerasnya aku memendam semua hal yang membingungkan ini, hey HD. 

Monday, 27 May 2024

Jatuh Hati (part 8)

Pasir Pariuk, 23-05-2024


Aku rindu, tapi aku tidak mencarimu.

Aku ingin bertemu, tapi aku tidak mendatangimu.

Aku ingin bicara, tapi aku tidak menghubungimu.

Semua itu bukan hanya tentang aku tidak ingin mengganggumu, tapi,.


---


Sekarang aku masih menjalin sebuah hubungan bersama seseorang yang dimulai sejak 2017. Tapi sekarang aku juga sedang memikirkan orang lain selain dia, dan orang itu adalah kamu. Kamu yang hadir ketika hubunganku bersama dia pada tahun 2022 sedang tidak baik-baik saja. Meskipun hubunganku dengannya sekarang kembali baik-baik saja, tapi kehadiranmu sejak saat itu tidak pernah lepas dari ingatanku. 


Aku kembali mengingat masa itu, masa dimana untuk pertama kalinya aku melihat profil akun sosial mediamu, kemudian bertanya siapa dirimu. Ada sedikit rasa sesal kenapa aku harus menjadi manusia yang paling friendly seperti kala itu. Kalau di ingat sekarang rasanya aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Meskipun pada akhirnya kita akan tetap saling mengenal dengan cara yang berbeda. Dan pada akhirnya pula kita akan tetap seperti tidak saling mengenal lagi seperti saat ini. 


Lebih tepatnya kita pura-pura tidak saling mengenal, seperti dua orang yang tidak pernah duduk berdua dan bercerita tentang kehidupan, seperti dua orang yang tidak pernah menjelajahi jalan yang curam untuk melihat keindahan pantai, seperti dua orang yang tidak pernah saling menutupi kemaksiatan dari keluarga kita masing-masing, seperti dua orang yang tidak pernah berebut gelas untuk diisi anggur yang murah juga berbagi sepotong pil halusinasi, dan kita seperti dua orang yang benar-benar asing bahkan disaat berpapasan kurang dari sejengkal pun kita sama-sama saling dingin. 


Tapi dari kepura-puraan itu aku tau satu hal bahwa kita masih saling memikirkan satu sama lain. Terbukti dengan diriku yang tetap menulis ini dan kamu yang, yang apa ya. Ataukah kamu benar-benar sudah melupakanku? 


Andai saja pada saat itu kamu tidak pernah meminta pertemanan di sosial media, atau aku yang tidak menyetujuinya, atau aku tidak bertanya siapa dirimu, atau kamu tidak menjawabnya, atau kita tidak pernah bercerita hal-hal yang membuatku nyaman, mungkin pada saat ini aku sedang memikirkan orang lain dan mungkin fokus dengan hubunganku yang sejatinya ada atau tidak ada kamu pun tetap baik-baik saja. 


Meskipun kita bersaudara, tapi pada awalnya aku benar-benar tidak pernah mengenalmu dan tau siapa kamu. Tanpa akun sosial media itu, mungkin kita bisa saling berkenalan dan dekat dengan natural selayaknya saudara jauh yang baru pertama kali bertemu, dan aku juga yakin dengan rasa yang tidak akan timbul seperti saat ini. 


Kita hidup dalam banyak kemungkinan.

Satu hal yang terjadi dan dilakukan akan berdampak terhadap hal yang lainnya. Besar atau kecil dampak yang ditimbulkan, semua dimulai dari hal kecil yang dilakukan, dan itu mengubah kemungkinan yang lainnya juga. Dan kemungkian itu adalah aku tidak akan pernah mempunyai rasa sedalam ini padamu.


Tapi apapun dan bagaimanapun situasinya sekarang, aku selalu yakin bahwa kita akan tetap baik-baik saja seperti dulu. 

Karena untuk saat ini aku sedang bingung dan bertanya-tanya, apakah aku ada salah kepadamu yang hingga akhirnya seperti ada sebuah penghalang diantara kita. 


Aku merindukanmu.

Tapi aku tidak mampu untuk mengatakan itu kepadamu. Andai saja kamu tau, sedikit kabar darimu selalu kutunggu. Ingin rasanya kusapa dirimu, tapi aku takut sapaku jadi pengganggu.


Aku selalu ingin bertanya bagaimana kabarmu. 

Hai, apa kabar?

Mungkin kamu latah dengan menjawab bahwa kamu baik-baik saja seperti biasanya. Tetapi bisa saja jawaban "baik-baik saja" itu berarti kamu tidak ingin orang lain mengkhawatirkan hidupmu atau kamu sendiri yang malah tidak pernah mengkhawatirkan hidupmu sendiri. 


Jika ada kesempatan, aku ingin mengatakan beberapa hal.

Di tengah-tengah hidup yang penuh dengan segala rintangan dan juga tantangan, aku hanya ingin mengatakan kepadamu bahwa kamu jangan pernah lupa untuk mengapresiasi dirimu sendiri. Aku tau beban yang kamu pikul itu mungkin sangat berat dan juga sangat besar, tetapi please be gentle dengan dirimu sendiri. Karena dirimu itu adalah rumah bagi mimpimu, rumah bagi harapanmu, dan juga rumah bagi doamu.

Jika ada yang belum mengatakannya untukmu sampai hari ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa kamu sudah hebat, dan aku sangat bangga pada dirimu. Itulah salah satu alasan aku masih tetap mengangumimu sejak pertama aku mengenalmu bahkan sampai saat ini, saat dimana kita sedang berada diambang apakah akan tetap menjadi asing atau seperti dulu. 


Aku juga minta maaf jika pernah membuatmu sakit hati atau merasa tidak enak atas semua perlakuan dan sikapku selama ini. 

Nanti kalau ternyata waktu memberi kita kesempatan untuk duduk dan berbicara lagi, akan aku ceritakan bagaimana susah payahnya mengalihkan pikiranku dari kamu. 


Aku juga mau bilang terimakasih dan maaf atas semua rasa dan perasaan ini. Kamu sudah pernah mengetahui bagaimana perasaanku padamu. Berjanjilah untuk selalu hidup dengan baik seperti biasanya, untuk keluargamu, orang-orang yang kamu sayangi dan untuk dirimu sendiri. Kamu akan tetap menjadi pemeran utama yang tidak akan tergantikan oleh siapapun. Dan kamu juga berhak untuk mendapatkan kesempatan memilih dengan siapa ingin bersama dan berbahagia. 

Perihal rasaku?

Biarkan ini menjadi pilihanku.