![]() |
| Danau Ranau, 5 Januari 2024 |
Aku berkenalan dengannya disebuah minimarket rumah sakit di daerah Soreang pada tanggal 11 November 2023. Ya, bertepatan pada hari anniversary aku dengan orang lain yang ke 6 tahun. Apakah ini termasuk sebuah hadiah?
Saat pertama kali bertemu dengannya dan duduk bersebelahan, tidak ada hal istimewa selain basa basi dan sekedar bertanya, "tidak ada colokan buat nge-charge ya disini?".
Aku melihat mata yang teralihkan dari layar HP itu, matanya menoleh kepadaku dengan jawaban yang menggambarkan kekecewaan karena aku sudah mengganggu kesendiriannya.
"Gak ada A!"
Dari bulan Agustus aku sudah berkali-kali mengunjungi rumah sakit Otista yang berada di daerah Soreang. Aku mengantar Ua-ku untuk kontrol/ rawat jalan karena sebuah keluhan yang dialaminya. Kalau tanggal 11 itu kebetulan aku mengantar saudaraku yang lain.
Berkali-kali juga aku selalu memasuki minimarket yang memang berada di dalam bangunan rumah sakit itu, kadang untuk sekedar membeli minum atau cemilan. Aku juga suka duduk di kursi yang berada di dalam sana.
Begitupun pada saat pertama kali kita bertemu.
Namanya Fz.
Dia adalah anak dari seorang dokter ternama.
Usianya sangat jauh lebih muda dariku. Kebetulan juga pada saat itu hari Sabtu dan dia sedang mengantar ibunya untuk jadwal praktik. Karena mungkin tidak akan betah jika harus berada di ruangan bersama ibunya, akhirnya dia memutuskan untuk duduk di minimarket.
Dia adalah salah satu orang yang memberi warna baru dalam kehidupanku pada saat ini.
Disaat aku ingin menjauh dan berusaha untuk hidup tanpa ada orang baru lagi, ternyata takdir berkata lain. Berawal dari ketidaksengajaan yang membawaku pada situasi yang mungkin akan rumit atau bisa saja membahagiakan. Tapi aku sudah tau bahwa diantara keduanya tidak akan ada yang abadi.
Dia juga menjadi orang yang memberi inspirasi baru dan mengajarkanku bahwa bersyukur saja belum cukup.
Tahun 2023 memang bukan tahun terberat bagiku, aku sudah banyak bertemu dengan tahun yang jika memang harus dikatakan terberat tidak akan ada kata yang benar-benar layak untuk menggambarkannya bila hanya ditulis disini.
31 tahun itu seperti terjadi begitu cepat.
Banyak hal bodoh yang pernah aku lakukan sebelumnya, tidak terhitung berapa banyak kesalahan yang sudah aku perbuat entah dengan sengaja ataupun tidak, berkali-kali juga aku mengecewakan orang lain, memanfaatkan ruang kosong yang mereka miliki, aku juga selalu mengambil kesempatan dari setiap pertemuan bersama orang baru entah itu waktu atau materi juga pengetahuan mereka tentang kehidupan yang ternyata apa yang sudah terjadi kepada diriku tidak ada perbandingannya dibandingkan apa yang sudah bahkan sedang mereka alami. Aku merasa sudah cukup berat untuk menjalani kehidupan ini, tapi pada kenyataannya hidup orang lain lebih berat dari dugaanku.
Dari banyaknya pertemuan dengan orang lain entah itu memang sesaat ataupun dalam waktu yang cukup lama, entah mereka itu orang baru atau memang orang-orang yang aku kenal dengan dekat, aku bisa belajar banyak hal dari mereka.
Fz. Seseorang yang aku temui di sebuah minimarket dengan cara yang tidak disengaja.
Pada awalnya aku melihat dia seperti seseorang yang luar biasa. Mempunyai ibu seorang dokter, meskipun sudah tidak memiliki figur ayah, tapi dia mempunyai kakak dan saudara yang lain. Selain itu dia juga tidak akan kesulitan untuk mendapatkan apa yang dia mau. Materi bukanlah suatu permasalahan seperti kebanyakan orang. Tapi dibalik itu semua dia menyimpan banyak misteri dan sisi lain yang mulai terkuak setelah pertemuan kami untuk kesekian kalinya.
Kita bertukar kontak untuk melanjutkan beberapa obrolan yang sempat terhenti karena aku harus kembali ke ruang tunggu untuk mengantar saudaraku yang mau kontrol.
Tanggal 17 November kita bertemu di sebuah tempat makan yang tidak jauh dari tempat tinggalku.
Pada saat itu dia membelikanku es krim McD yang sangat aku suka.
Kita sempat membahas tentang makanan yang kita suka.
Aku sangat menyukai es krim, lebih spesifiknya ya es krim sundae yang di McD itu.
Kemudian kami melanjutkan beberapa obrolan yang sebelumnya pernah kita bahas di chat dan telepon saja.
Dia memang mempunyai banyak teman, tentu saja karena dia masih duduk di bangku sekolah.
Tapi dia tidak pernah mempunyai teman yang benar-benar dekat dan mengerti dia secara mendalam.
Belakangan aku juga pernah beberapa kali bertemu dengan teman-temannya pada suatu acara malam anak remaja pada umumnya.
Tapi aku melihatnya beda dari yang lainnya.
Cara berpikirnya jauh lebih dewasa dari anak seumurannya.
Apakah aku kembali kagum dan jatuh hati?
Aku mencoba menjadi pendengar yang baik dan berusaha memahami apa yang dia ungkapkan.
Mungkin aku belum sedewasa orang pada umumnya, tapi aku juga tidak munafik kalau aku sangat suka membahas hal personal dengan orang baru untuk sebuah pemahaman dan pelajaran hidupku bukan untuk bahan perbandingan. Tapi aku selalu merasa bahwa apapun yang aku dengar dan apa yang aku ketahui dari siapapun itu, semuanya akan berarti dan berguna bagi kehidupanku dikemudian hari.
Aku juga beberapa kali diajak main ke rumahnya di Kotabaru Parahyangan. Sudah pasti bukan rumah pada umumnya ya, bisa dibilang cukup mewah.
Pada suatu obrolan, dia menawarkanku untuk melakukan sebuah operasi yang sebenarnya sudah sangat aku inginkan sejak lama.
Dan kebetulan juga banyak anggota keluarganya yang bekerja di rumah sakit bagus.
Pada tanggal 22 November aku dihubungi oleh pegawai rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggalku untuk menjadwalkan sebuah operasi.
Memang mendadak, tapi ini menjadi sebuah kesempatan bagiku juga. Apalagi dengan potongan biaya yang cukup besar.
Mungkin memang begitulah takdirnya.
Sebenarnya tulisan dan blog seperti ini tidak pernah aku update lagi, tapi ternyata hanya ini yang bisa menjadi media berbagiku untuk banyak hal yang aku rasakan.
Terutama tentang orang baru yang selalu hadir dalam hidupku. Memang, mereka dan orang-orang yang sebelumnya itu dengan sengaja datang atas kendali diriku, atas keinginanku juga keputusanku. Tapi dia?
Aku ingin berhenti.
Meskipun pada saat ini aku masih bersama orang dari tahun 2017 lalu, tapi kami terutama aku pribadi sudah ada di tahap menganggapnya sebagai saudara saja. Aku sedang menikmati masa kesendirian dan kebebasan tanpa adanya pemikiran bersama seseorang. Tidak menunggu atau memberi kabar, tidak mengingatkan ini itu, intinya sedang ada di fase feel free dalam artian yang sebenarnya. Apalagi aku juga sedang berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan banyak keluarga yang sebelumnya sempat jauh secara emosional.
Tanggal 5 Desember kami terakhir bertemu dengan kebiasaannya yang random saja tiba-tiba sudah menunggu di jalan depan.
Kami juga mengobrol dari hal-hal sederhana sampai hal yang bisa dibilang cukup berat.
Ya, kami cukup sepemahaman dalam sudut pandang tentang kehidupan.
Tapi aku mencoba untuk tidak mau larut terlalu dalam untuk kali ini.
Aku sudah tau bagaimana cara dunia ini berputar, apalagi tentang hati yang kapan saja bisa berubah.
Aku tidak terlalu menanggapinya dengan cukup serius. Bukan berarti aku mengabaikannya, hanya saja aku tetap ada dalam batasan dan kendali atas perasaan dan pikiran juga mengontrol semuanya agar kedepannya tidak menjadi sesuatu yang rumit.
Aku juga sempat menyampaikan terima kasih dan berkata, bahwa apapun yang akan terjadi kedepannya nanti, aku ingin memastikan bahwa semuanya dalam keadaan baik.
Aku juga tidak bisa berjanji banyak hal kepadanya, selain memang masih baru, tapi bisa aku pastikan bahwa kapan pun dia butuh waktuku, telingaku, sedikit pendapatku, aku akan berusaha selalu ada untuknya.
-------
8 Desember.
"Setiap orang mempunyai potensi untuk mengecewakan".
Aku mencoba untuk tidak menulis ini, tapi pada kenyataannya cerita tetap berlanjut ketika usahaku untuk tetap menyelaraskan antara pikiran dan perasaan masih dalam proses yang cukup sulit sejauh ini.
Aku sedang berusaha menghindari sesuatu, dan bahkan aku berperang melawan arus yang mengalir begitu deras.
Aku sedang tidak ingin berjalan mengikuti alur, aku berupaya untuk menolak semua perasaan yang dengan cepatnya menarik perhatianku seperti ingin segera menggenggam dan membawaku bersama alunan irama yang panjang dan tinggi.
Tentu saja aku tidak pernah menyukai hal romantis atau perlakuan manis lainnya, karena aku sudah terbiasa dengan sesuatu yang alami. Aku suka kesederhanaan, aku orang yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai dan cara-cara yang simpel tapi mendalam.
Aku pencari materi, aku sangat haus akan uang, aku selalu melakukan apa saja demi nilai harga tapi aku tidak melakukannya untuk hati dan perasaan.
Aku tidak menyukai siapapun yang memperlihatkan seberapa banyak dia memiliki itu semua. Bukan berarti aku munafik, tapi aku benar-benar tidak menyukai hal-hal seperti itu jika tujuannya untuk meluluhkan hatiku dengan cara yang demikian.
Aku mempunyai nilai yang tidak akan bisa ditukar oleh harta sekalipun aku menerimanya.
Tapi, apakah aku akan mampu bertahan untuk tidak jatuh hati?
Ini tentang ketakutanku, seolah aku sudah tau akan seperti apa jadinya nanti jika memang aku membuka hati dan memberikan ruang untuknya.
Aku takut dikecewakan olehnya atau aku yang malah mengecewakannya.
Aku masih terhalang oleh banyaknya memori yang menjadi pembatas untuk seseorang yang baru.
Aku takut ketika aku mulai terbawa arus itu malah tidak bisa berenang ke tepi dan justru hanyut hingga tenggelam.
Aku belum bisa memutuskan, aku terlalu pengecut untuk mengakui bahwa aku sudah mulai jatuh hati.
Aku terlalu munafik untuk mengatakan bahwa aku juga ingin selalu didekatnya, bersamanya.
Aku malu untuk mengakui bahwa aku tidak sekuat itu menahan diri agar tidak sampai menginginkannya.
Aku pembohong yang buruk, aku mencoba untuk berlari tapi langkahku malah melambat dan membuka tanganku untuk menerima genggamannya agar bisa berjalan bersama.
Fz.
Andai saja waktu itu aku tetap duduk dan mengobrol bersama saudaraku di ruang tunggu hingga pingsan kehausan, mungkin aku tidak akan pernah berbicara kepadamu mulai saat itu.
Andai saja aku tidak pernah melepas hansfree dari telingaku, mungkin kita tidak akan pernah bertemu hingga aku harus mendengarkan semua cerita hidupmu secara mendalam.
Andai saja aku menjadi orang yang tidak selalu basa basi ketika bertemu dengan orang yang baru, mungkin kamu tidak akan pernah nyaman saat pertama kali kita bertemu.
Tapi semua itu sudah terjadi, sudah menjadi takdir yang memang tidak pernah bisa kita rencanakan.
Aku memang mengagumimu, karena sejauh ini kamu sudah menjadi orang hebat atas dirimu sendiri ditengah perjalanan hidupmu yang belum tentu jika itu semua terjadi kepada orang lain selain kamu. Kamu sudah melewati banyak hal yang sejauh ini sangat berat untuk kamu lalui.
Kamu mempercayaiku, orang baru yang kamu temui di sebuah minimarket untuk mendengarkan seluruh cerita hidupmu. Kamu memilih pundakku untuk bersandar dari perasaan tersakit yang kamu rasakan selama ini.
Kamu memperlakukanku seperti orang yang sudah lama ada dalam hidupmu.
Kamu meluapkan kesedihan dan kegembiraan disaat ada kesempatan bersamaku.
Tapi kamu tidak tau bahwa aku juga sedang ada dalam fase tertatih mencoba untuk kembali bangkit dari semua keterpurukan hidup yang selama ini menimpaku.
Aku tidak ingin menyakitimu, aku juga tidak ingin tersakiti olehmu.
Kita sama-sama tidak ingin saling menyakiti dan mengecewakan, tapi jika kita bicara realistis dalam kehidupan dan hukum alam yang ada, potensi untuk itu semua pasti ada.
Dan aku belum siap untuk itu.
-------
10 Desember 2023.
Sempat terpikirkan bahwa kisah ini akan terhenti bertepatan dengan tahun 2023 yang juga akan segara berakhir, tapi takdir mempertemukanku dengan dia disebuah minimarket rumah sakit itu dengan ketidaksengajaan.
Aku tidak menemukan jiwa yang bersinar dan kepribadian yang membuatku takjub pada saat itu, karena memang keadaannya yang sedang tidak baik-baik saja.
Seiring waktu berjalan, dia mulai menyadari bahwa disinilah aku berdiri untuknya, untuk dia yang selama ini terombang-ambing.
Dia menemukan kenyamanan yang selama ini belum pernah dia rasakan, dia mempercayakannku sebagai orang baru yang mampu untuk mengisi kekosongan yang selama ini terabaikan, dia mulai memfokuskan perasaan dan pikirannya hanya kepadaku.
Dia mulai bisa melupakan semua permasalahan yang selama ini mengganggu di setiap harinya. Mulai bisa tersenyum dan bahkan tertawa disaat ada kesempatan untuk bersamaku.
Jam 7 pagi besok semua tindakan akan dilakukan, tentu saja dengan semua proses yang cukup panjang. Tes antigen yang sudah aku lakukan kemarin, begitu tiba ke rumah sakit aku tidak mengalami proses pendaftaran dan banyak persyaratan lainnya seperti kebanyakan orang, karena memang sudah ada yang atur.
Aku juga langsung dipanggil untuk melakukan pengambilan darah lengkap, kemudian ke ruang radiologi, begitu semuanya selesai aku pergi ke lantai 4 RS Santosa Bandung Center untuk mendapatkan ruangan.
Diantar oleh partner lamaku, tapi setelah itu dia kembali pulang untuk bekerja.
Selebihnya aku dilanjutkan dengan mengisi berbagai macam form, persetujuan tindakan, anastesi, infus dan lain-lainnya.
Berkali-kali diperiksa tekanan darah, menerangkan banyak hal ini itu dan semuanya.
Dan terakhir aku diberi obat ativan. Efeknya seperti biasa, mengawang.
Jam 4 lebih tiba-tiba dia "ngurunyung" dengan badan yang bau matahari dan berkeringat panas sambil membawa keresek seabrek dengan berbagai macam cemilan dan salah satunya adalah es krim, makanan kesukaanku. Jelas aku suka es krim, tapi kan aku sedang mau melakukan tindakan operasi dan dia memberikanku es krim?
Sangat diluar dugaan.
Tapi, disanalah salah satu perjuangan yang mungkin sengaja dia perlihatkan kepadaku.
Lagi pula semua ini terjadi atas perantara dia.
Dialah juga alasan aku mau melakukan operasi ini. Meskipun perannya tidak cukup banyak, tapi dia memang yang memulai hingga sampai ke tahap ini.
Aku pernah bertanya, kenapa harus aku? Disaat banyak orang yang mungkin mengantri untuk menjadi bagian dari hidupmu entah itu untuk sementara atau lama.
Dari sisi dewasa yang kadang penuh dengan kerandoman itu kamu hanya menjawab, "aku maunya kamu".
So, welcome to my world.
-------
15 Desember 2023.
"Jatuh cintalah dengan kesadaran bahwa setiap orang bisa melukai sewaktu-waktu, dan
sembuhlah dengan keyakinan bahwa akan ada seseorang yang sungguh-sungguh memahami bahwa kamu layak untuk dibahagiakan".
-------
Pada bulan November kemarin aku bertemu dengan seseorang tanpa disengaja.
Ini bukan pertama kalinya aku dilanda rasa yang tak berarah, entah akan bagaimana nantinya, terlihat tidak ada harapan tapi membuatku sedikit bahagia, membingungkan tapi menenangkan.
Cinta itu egois dan penuh harapan terutama jika ingin ada balasan, terlalu rumit jika harus diungkapkan, terlalu beralur jika harus diucapkan, lagipula mana ada orang yang berani menghabiskan waktunya selama itu untuk menunggu hal yang tidak pasti.
Aku tidak jatuh cinta, aku hanya jatuh hati. Aku tidak ingin merasakan sakit karena cinta yang tidak nyata atau cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta itu harus sama-sama, bukan satu yang mengejar dan satu yang berlari, cinta harus berjalan bersama, cinta harus saling bergandengan dan menatap tujuan yang sama.
Aku jatuh hati padanya karena banyak hal, selain tidak ingin egois, aku hanya bisa mengagumi tanpa memuji apalagi memuja, hatiku ingin se-simple itu tapi sebahagia saat aku melihat wajahnya atau berdekatan dan duduk bersamanya.
Dia tidak perlu tau apa yang aku rasakan, kubiarkan rasa dihati ini semakin rapat tersimpan dalam angan, karena rasa seperti ini saja sudah cukup indah bagiku.
Bukannya aku terlalu takut untuk mencintai, tapi ada kalanya seseorang meminimalisir untuk tidak sampai ke fase sakit hati karena mencintai, karena bagiku cinta itu harus indah dan bahagia bukan malah membuat luka.
Seperti yang sudah aku katakan kepadanya, aku hanya sebatas mengagumi keindahan tanpa harus memiliki keindahan itu, aku tidak ingin merusaknya apalagi sampai menjadi racun untuk hidupnya. Kubiarkan waktu yang memilih, entah nanti aku yang berubah atau dia yang mencoba merubah rasa dihatinya, tapi aku tidak berharap sesuatu yang berlebihan, dia bersedia dekat denganku saja sudah lebih dari cukup bagiku.
Tidak munafik, kalau dia berubah untuk ingin lebih dari itu aku juga akan membuka hati untuknya, tapi harus dengan cara yang seimbang antara logika dan perasaan, karena cinta bisa merusak banyak kenangan yang indah selama ini.
"Hey, kamu. Aku tidak berharap lebih darimu, aku hanya ingin selalu bisa dekat denganmu".
Ucapnya sambil menutup pintu mobil dan menginjak gas berlalu tanpa kabar bahkan mengabaikan pesan dariku.
Aku akui, aku adalah pembohong yang handal untuk banyak rasa yang selalu aku abaikan, tapi hatiku mengetahui dan pikiranku juga membenarkan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam diriku.
Aku juga mempunyai perasaan yang sama dengannya, tapi terlalu banyak pertimbangan yang pada akhirnya membuatnya sedikit kecewa karena ekpektasinya yang terlalu berlebihan.
Aku sudah berusaha untuk menghindarinya, menjauhinya, mengabaikannya, tapi dia masih dengan semangat luar biasanya mendekatiku dengan segala pengorbanannya, usaha-usahanya, tingkah-tingkahnya, dan keyakinan yang dimilikinya bahwa dia akan mampu menaklukkan hati yang selama ini sudah aku bentengi dengan kokoh agar tidak ada sedikitpun terbersit keinginan untuk saling memiliki, apalagi hingga runtuh terjatuh ke pelukannya.
Tapi pada kenyataannya semakin aku berusaha memaksimalkan pertahanan ini, semakin kuat pula badai penghancurnya.
Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya dengan segala resiko yang akan terjadi kedepannya, entah aku yang menjadi cinta atau dia yang terlalu sayang dan mungkin kita sama-sama saling berbagi atas perasaan yang mulai terbentuk meskipun belum terlalu berarah.
Dia bukan yang pertama bagiku, aku juga bukan yang pertama baginya, tapi keputusan untuk bersama adalah kesempatan kami satu-satunya.
Bagaimana bisa mengetahui akan sakit atau bahagia jika memulai saja tidak pernah kami lakukan untuk pertama kalinya.
Secara berpikir dan menyikapi banyak hal saja kami sudah berbeda, itu hal yang menjadi alasan utama kenapa aku membutuhkan waktu untuk menerimanya, dulu.
Dulu aku juga berpikir bahwa jatuh cinta hanya akan membuang-buang waktuku, aku selalu menganggap hal itu akan menjadi sesuatu yang rumit dan membingungkan, tapi aku juga mempunyai keyakinan bahwa bagaimana kalau memang inilah yang seharusnya aku terima dan aku jalani dengan sukarela tanpa harus mempermasalahkan sesuatu yang belum terjadi.
Selalu ada tujuan dan alasan kenapa setiap orang dipertemukan.
Entah itu untuk saling membahagiakan atau mungkin saling menyakiti satu sama lain.
Aku mempunyai kendali atas diriku sendiri, aku tidak ingin ada orang lain yang mengendalikanku atas apapun itu, begitupun ketika aku akan mengambil keputusan untuk sesuatu yang besar, menjadi sesuatu yang besar karena ini tentang hati yang kapan saja bisa berubah dan kemungkinan terburuknya adalah ketika hati terluka maka dunia ini akan terhenti sejenak untuk keheningan dan penyesalan juga kesakitan yang luar biasa.
Untuk cinta, aku tidak bisa hanya memakai logika atau hanya mengandalkan perasaan, karena keduanya harus seimbang. Tapi kekurangan manusia yang sedang jatuh cinta adalah dia terlalu mengandalkan perasaannya dan melupakan logikanya.
Logika menerima tapi hati menolak atau hatinya yang sangat menginginkan tapi logikanya menolak dengan banyak pemikiran-pemikiran yang logis tapi sesaat, lupa akan jangka panjang untuk kehidupannya.
Tapi semua itu kembali lagi dengan seberapa siap dia dengan banyaknya kemungkinan yang akan terjadi dan beberapa hal yang tidak bisa dia perkirakan dari awal.
Tapi faktanya hanya akan terjadi satu dari dua hal itu, yaitu bahagia atau sakit.
Sejauh ini aku tetap dengan caraku yang terus berusaha menyeimbangkan antara perasaan dan pikiran, tidak mengucapkan banyak janji dan mempercayai perkataannya yang sedang bahagia karena kenyamanan dan rasa jatuh cinta. Karena sejauh ini aku masih di tahap jatuh hati saja.
Mungkin aku hanya bisa mengungkapkan apa yang sedang aku rasa, melakukan hal-hal yang mampu aku lakukan saja, tidak berusaha untuk menghindari lagi, aku juga tidak bisa menjanjikan banyak hal untuknya, karena apapun yang akan terjadi kedepannya nanti, kita sudah sama-sama saling tau resikonya dan bagaimana cara kita menghadapi juga mengendalikannya.
-------
Tidak ada dua insan yang bertemu langsung cocok, kecocokan akan tumbuh saat keduanya
saling berusaha menerima kelemahan & kekurangan masing-masing.
(Film 172 days).
-------
19 Desember 2023.
"Ketika aku memilihmu berarti aku sudah menyelesaikan perang dalam diriku, menyeimbangkan antara pikiran dan perasaanku."
Terlalu rumit dan membingungkan bahkan hampir tidak bisa memutuskan untuk meneruskannya dari bagian mana lagi cerita ini. Karena diriku, tubuhku hanya ada satu tapi dengan pikiran yang tidak terlalu fokus juga rasa yang selalu berubah-ubah setiap saatnya.
Ada banyak momen yang pada kenyataannya sangat related dengan orang yang keberadaannya jauh disana. Sejujurnya aku sudah sedikit tau tentangnya, karena aku selalu berhenti disaat ada rasa ingin mencari tau segala yang berhubungan dengannya. Sejauh ini aku masih bisa mengendalikan semuanya, ada rasa tertarik tapi hanya berhenti pada titik itu saja.
Ketika aku sedang bersama orang yang dari tahun 2017 dan Fz, aku sedikit tertarik dengan seseorang yang jauh disana.
Oh ya, apa yang dia lakukan hampir selalu sama dengan yang Fz lakukan.
Tiga hal terakhir yang pada awalnya aku abaikan, dulu aku pernah sama Fz pergi makan di McD dan anehnya dia juga makan di tempat yang sama meskipun itu entah dimana, aku juga tidak peduli awalnya.
Kedua, aku sama Fz sedang minum dan pergi ke sebuah tempat di Sulanjana. Ternyata dia juga sedang minum meskipun entah tidak tau dimana dan dengan siapa, karena aku tidak peduli juga.
Yang terakhir. Fz hari ini (19-12-23) pergi ke Bali bersama keluarganya, tentu saja setiap bertemu dan di chat atau via telfon selalu mengajakku untuk ikut tapi itu hal yang tidak mungkin terjadi. Fz belum mengerti situasi, meskipun kami sudah cukup dekat tapi aku tidak ada hubungannya dengan keluarga dia. Dan dia, si orang ini, melakukan perjalanan keluar kota menggunakan pesawat di jam yang sama dengan jenis pesawat yang sama juga, Batik Air. Bahkan sebelum berangkat orang ini juga memfoto bagian dalam pesawat bersamaan dengan Fz yang mengirimkannya via pesan WhatsApp sesaat sebelum take-off, tapi memang dengan foto yang berbeda tapi cukup mirip karena maskapai yang sama. Fz ke Bali, orang ini entah kemana aku tidak tau, katanya sih ke Jakarta untuk transit.
Sesaat aku berpikir tapi tidak terlalu dalam, dan ini hanya kebetulan. Ya. Kebetulan saja.
Fz.
Aku tidak tau apa yang akan aku katakan jika suatu saat dia membaca tulisan ini.
Kalau boleh jujur, sejauh ini aku masih dalam tahap rasa sayang yang tidak berlebihan. Untuk cinta? Aku belum merasakannya. Karena aku pribadi yang sangat sulit untuk jatuh cinta.
Dia kehilangan banyak figur dalam hidupnya termasuk kakak, ayah tiri yang sibuk sendiri, ibu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya mengurusi nyawa orang lain tapi melupakan perasaan anaknya sendiri.
Teman yang banyak tapi tidak peduli dengan apa yang dia rasakan, teman-temannya hanya dekat karena ada maunya. Teman-temannya hanya ikut merasakan fasilitas yang diberikan oleh orang tuanya bukan benar-benar ingin berteman secara tulus.
Setelah kenal dan dekat denganku, aku tidak tau berapa persen kebahagiaan dia bertambah, atau berapa banyak rasa marah dan kecewa yang selama ini dia pendam hingga terkuras meskipun tidak semuanya terungkap, tapi setidaknya sudah pasti berkurang. Terlihat dari fokus belajarnya yang membaik. Yang tadinya nilai pelajarannya kurang bagus, tapi setelah kenal denganku nilai-nilai pelajaran sekolahnya banyak yang membaik.
Apakah aku bangga?
Sejujurnya ya, tapi sedikit.
Karena pada akhirnya yang ada hanyalah beban kedepannya harus seperti apa, kepalaku dipenuhi rasa was-was dan takut jika aku yang malah bukan jatuh hati lagi kepadanya, tapi sebaliknya.
Saat dia memintaku untuk tidak meninggalkannya, aku tidak bisa berjanji akan tetap tinggal. Aku tidak menjanjikan banyak hal kepadanya, tapi aku akan berusaha untuk selalu ada disaat dia membutuhkanku dalam keadaan apapun, termasuk hal sepele ketika harus makan es krim yang mengandung banyak gula itu. Mungkin berlebihan, tapi pada kenyataannya semua orang akan ada di fase mengabaikan janji-janjinya, karena pada akhirnya semua orang akan pergi. Entah itu karena satu orang yang bosan, entah keduanya yang sama-sama bosan, entah salah satunya tersakiti atau sama-sama saling menyakiti bahkan saling mengecewakan dengan banyaknya alasan agar sebuah hubungan itu berakhir. Karena sebuah ketidakcocokan dan menemukan hal yang lebih menarik diluar sana juga menjadi alasan kenapa sebuah hubungan selalu usai.
Aku menyayanginya, tapi memang hanya sebatas itu saja.
Aku tidak ingin lebih jauh ke tahap yang lebih serius. Aku bukan pembaca masa depan yang sudah tau ujungnya akan bagaimana, tapi aku sedang dalam sebuah hubungan bersama orang yang lain juga. Sangat rumit jika memang terlalu dipikirkan, makanya aku lebih membiarkan hidup ini otomatis daripada menjalaninya secara manual. Aku selalu percaya setiap hal yang terjadi dalam hidup ini sudah teratur secara langsung tanpa harus repot mencari jawaban dan pembahasan apalagi permasalahan.
Beberapa hari yang lalu ketika kami bertemu dengan dengannya untuk makan, diperjalanan aku memberanikan diri untuk bertanya alasan kenapa dia memilihku secara jujur dan serius.
Saat di minimarket rumah sakit itu dia hanya kagum saat aku berkata, "Aku harap siapa pun mau bercerita dan terbuka apapun tanpa ada perasaan akan dihakimi atau disalahkan apalagi sampai dimarahi.
Karena sejatinya kebanyakan orang hanya butuh untuk didengar bukan untuk diberi solusi."
Ya, hanya itu.
Aku pikir memang pada dasarnya setiap orang harus seperti itu. Tapi pada kenyataannya tidak semua orang mampu melakukan hal sederhana itu. Bahkan untuk bertanya "apakabar, apakah kamu baik-baik saja, apakah mau cerita" saja sangat tidak terbiasa dengan itu semua.
Banyak orang yang pada akhirnya malah menjadi hakim dan pemberi nasihat tanpa mendengar dan ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain.
-------
24 Desember 2023.
"Kita tidak pernah tau seberapa kerasnya usaha seseorang untuk mencintai takdirnya, maka jangan pernah merusaknya dengan lisan yang tidak bertanggung jawab."
Semua sudah selesai ya?
Terima kasih ya sudah sempat hadir di dalam hidupku.
Mengenalmu bukan bagian dari rencanaku, tapi aku senang pernah mengenalmu walau hanya sebentar.
Aku senang disaat kita bercerita tentang hal kecil sampai hal-hal yang belum pernah kita ceritakan kepada siapapun.
Sejauh apapun jarak diantara kita kedepannya nanti, aku tidak akan pernah berusaha untuk melupakan semua hal yang pernah terjadi. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil, salah satunya adalah tentang bagaimana cara memperlakukan orang dengan baik, mendengarkan semua isi hati dari orang lain tanpa menghakiminya, aku juga menjadi banyak bersyukur disaat semua keterbatasanku selama ini ternyata masih bisa berguna untuk membantu menyembuhkan banyak luka yang pada awalnya hanya sebagai sandaran hingga akhirnya menjadi tujuan utama dari segala arah penjuru rasa.
Aku yang sedang ingin menyerah dan menjauh dari banyak hal yang selalu membingungkan, tapi pertemuan kita malah membuat cerita baru seolah-olah Dia tidak rela jika aku benar-benar lepas dari peran sebagai orang yang bisa hidup tanpa orang lain, dan itu kamu.
Kamu yang sejak pertama bertemu saja tidak pernah aku masukkan dalam ceritaku, tapi kegigihan dan usahamu yang terus menerus tanpa henti agar bisa masuk dalam bayangan sebelum tidur bahkan dalam mimpiku, hingga akhirnya aku menerimamu sebagai sosok yang nyata dan benar-benar ada dihadapanku dengan banyak sayatan entah ribuan bahkan jutaan luka yang jelas terlihat hingga teraba bahkan terasa.
Aku dengan tipe orang yang memiliki perasaan empati dan rasa simpatiku yang terlalu berlebihan. Itulah yang menyebabkan terjadinya sebuah hubungan diantara kita.
Aku menerimamu karena menghargai dan memaklumi keadaan rumit yang mungkin tidak bisa orang lain pahami, aku mengatakannya bukan cinta karena memang aku tidak pernah memiliki rasa itu. Tapi rasa sayangku melebihi ucapan dan perilaku mereka yang pada kenyataannya hanya setelah bertemu denganku-lah semua luka itu mulai memudar bahkan sedikit menghilang.
Aku juga mengagumimu karena masih bisa bertahan ditengah keadaan yang mungkin aku sendiri saja belum tentu sanggup menjalaninya.
Seperti yang pernah kamu katakan, memang, setiap orang mempunyai jalan hidup dan cerita masing-masing termasuk permasalahan di dalamnya. Tapi disaat sudah sejauh ini aku berjalan dan jika harus dihadapkan dengan situasi yang sedang kamu alami, aku mungkin akan memilih untuk mundur. Belum tentu aku sekuat kamu. Dan kamu masih bisa sampai sejauh ini.
Kamu juga baik, sweet, perhatian, memperlakukanku seperti seseorang yang sudah lama kamu kenal. Mungkin memang sedikit berlebihan, dan aku tidak menyukai hal itu. Aku sudah berusaha untuk menerima semua perlakuan itu, tapi hati dan pikiranku tetap menolak menerimanya.
Dari saban mana aku bisa hidup di dunia seperti ini, beberapa kali pernah aku bahas dalam tulisan entah di part ke berapa, aku bukan tipe orang yang menerima begitu saja. Aku suka materi, tapi aku bukan orang yang menerima pemberian apalagi bantuan. Aku suka materi, tapi dengan harga diriku yang aku pikir kamu tidak mengerti akan hal itu.
Berkali-kali aku sudah katakan, aku mempunyai waktu untuk diriku yang tidak bisa orang lain ganggu, aku mempunyai waktu untuk teman-temanku yang tidak boleh kamu ganggu, aku juga mempunyai waktu bersama kamu yang tidak bisa orang lain ganggu. Tapi kamu mengabaikannya berulang kali.
Aku terlalu muak untuk diperlukan seperti itu.
Kemarin sore salah satu contohnya.
Baiklah, kamu datang jauh-jauh untuk mengantarkan obat yang sebenarnya bisa aku beli sendiri dengan uang aku sendiri. Bahkan rela macet-macetan dan hujan-hujanan. Aku juga sudah berkali-kali mengatakan untuk tidak perlu melakukannya karena selain jauh itu juga buang- buang waktu saja. Apalagi aku sedang ada acara.
Dan kamu "keukeuh".
"Aku berkorban demi kamu masa kamu ngomong gitu." Itu yang selalu kamu katakan.
Aku tidak butuh semua itu.
Mungkin kamu berusaha untuk menjadi bagian dari hidupku secara nyata, tapi aku sudah terbiasa hidup sendiri dan melakukan hal-hal sederhana seperti itu sendiri. Bahkan aku pernah berkali-kali hidup dalam keterasingan sendiri tapi aku mampu melewatinya. Dan apa yang kamu lakukan itu tidak akan berarti apa-apa untuk aku. Karena yang aku mau hanya melihatmu menjadi orang yang lebih baik. Aku tidak menyepelekan pengorbananmu, tapi aku benar-benar tidak memerlukan itu semua.
Mungkin kamu merasa berhutang kepadaku, karena sudah pernah memanusiakan manusia seperti kamu ditengah mereka yang mengabaikanmu, mungkin kamu merasa tidak enak karena selalu menceritakan semuanya kepadaku dengan responku yang bisa diterima olehmu, mungkin kamu merasa ingin berbalas budi karena ternyata dengan adanya aku kehidupan kamu menjadi lebih damai dan bisa belajar bahagia dari setiap situasi dan keadaan keluargamu yang selalu tidak baik-baik saja.
Bahkan kamu pernah berjanji akan melakukan apa saja untukku dan menuruti apa yang aku katakan kepadamu.
Oh God!
Kedepannya mungkin aku juga tidak akan menghindarinya, karena aku masih bisa mengendalikan perasaan dan pemikiranku.
Aku berusaha agar semuanya tetap berjalan apa adanya, tidak akan berusaha seolah-olah tidak pernah mengenalnya, tidak akan berpura-pura seakan tidak pernah menemuinya, tidak akan berakting bagai dua orang yang tidak saling mengenal.
Sebelumnya aku sudah banyak berpikir tentang ini semua. Memperkirakan dengan dimulai dari mempertimbangkan dan melihat sisi baik dan juga buruknya bahwa hal seperti ini sudah pasti akan terjadi.
Tidak dipungkiri, selama aku bertemu dengannya itu membuatku bahagia, memberi warna baru dalam hidupku.
Tapi memang ada kalanya tidak selalu bahagia karena terkadang aku dipenuhi rasa khawatir entah aku takut dia mengetahui masa laluku, entah karena aku yang tidak bisa menjadi diriku sepenuhnya ketika bersamanya, aku juga merasa bahwa banyak hal yang tidak akan bisa dia terima jika suatu saat nanti dia mengetahui kebenaran bahwa dia bukanlah satu-satunya.
Aku mengatakan kepadanya sesaat dia akan pergi dengan air mata yang tertutupi oleh basahnya air hujan, aku akan selalu berusaha ada untuknya, aku akan mendengarkan semua keluh kesahnya, aku akan berupaya keras untuk memberi banyak solusi dan masukan jika dia memintanya, mungkin aku akan tetap menegakkan badanku disaat dia membutuhkan sandaran dari kehidupan yang selalu tidak baik-baik saja diluar sana ditengah perjalanan hidupku yang sejatinya kita semua ketahui dari awal hingga saat ini pun masih sama saja perlu untuk diperbaiki dan tetap butuh akan sebuah perhatian, ya, kami berdua sama-sama membutuhkan sosok figur itu. Hidup kami berdua sangat menyedihkan. Hanya itu kesamaan diantara kami.
Tapi pada akhirnya aku harus banyak menerima dan mengikhlaskan banyaknya pertemuan yang berakhir dengan perpisahan. Aku sudah terbiasa dengan itu semua. Bahkan sejak mengenal seseorang saja aku sudah bisa menebak akan bagaimana akhirnya nanti.
Tentangku, bukan berarti apa-apa untuk orang lain, dan tentang orang lain juga tidak harus berarti apa-apa untukku.
Kedewasaanku terjadi disaat keluar dari pintu rumah itu dengan penuh kepercayaan akan banyak kejutan diluar sini, entah itu hal yang membahagiakan atau sebaliknya. Aku juga percaya akan selalu dipertemukan dengan orang-orang yang baik, akan bertemu dengan banyak orang yang menerima keadaan dan pemikiran-pemikiran luar biasaku, akan selalu ada lingkungan yang menganggapku bagian terbaik dari mereka.
2023 ini aku tutup dengan rasa terimakasih atas semuanya.
2024 aku siap dengan cerita baru entah dengan orang yang baru atau mungkin dengan orang yang pernah ada dalam hidupku sebelumnya bersama orang-orang yang akan memberiku banyak pelajaran yang luar biasa.
-------
"Jangan hanya menyukai keindahannya saja, sukai juga kekurangannya."
Aku masih belum tau apa itu rumah?
Tapi aku tau satu hal tentang mereka yang memiliki rumah tapi menolak untuk dijadikan rumah atau lebih memilih untuk berlindung diluar rumah.
-------
Belakangan ini aku selalu merayakan tahun baru bersama keluarga, entah itu keluarga besar atau keluarga inti saja. Kalau kemarin aku pergi ke rumah kakakku yang di Banjaran. Pada tanggal 1-nya baru berdatangan sepupu-sepupu yang lainnya.
Seperti biasa, bakar-bakar daging, bercanda, ngobrol-ngobrol sampai larut, sederhana tapi selalu bermakna.
Tanggal 2-nya aku kembali ke Lengkong.
Ada rasa kurang enak badan juga, mungkin karena kurang istirahat dan kurang minum air putih juga. Tenggorokanku sedikit radang tapi tidak berlangsung lama karena aku selalu sedia obat jika sewaktu-waktu badanku terasa kurang sehat.
Dari tanggal 2 sampai dengan tanggal 3 aku benar-benar istirahat, makan, tiduran, nonton film, intinya benar-benar menikmati masa kesendirian dan kebebasan tanpa adanya gangguan dari luar. Aku juga sengaja tidak membuka beberapa chat kecuali yang sekiranya lumayan penting.
Apalagi tanggal 8 mendatang aku sudah dijadwalkan bertemu dokter di RSHS untuk konsultasi perihal operasi lanjutanku.
Pada sore hari tanggal 3, ada suara langkah kaki menuju halaman rumahku. Terdengar suara "salam" dan beberapa kali ketukan pintu. Ketika dibuka, itu adalah orang yang seminggu lalu mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kotor juga ucapan sombongnya yang cukup menyinggung perasaanku. Tapi itu sudah berlalu, aku pun mempersilahkannya untuk masuk.
---
Kamis, 4 Januari 2024.
Sekitar jam 7 pagi aku harus sudah siap berangkat menuju pool travel di daerah Tamansari, padahal aku belum tau akan menuju kemana travel itu nanti, tapi dengan jadwal keberangkatan jam 9 yang sudah pasti.
Aku hanya membawa ransel dengan baju dua stel saja, tidak lupa juga aku membawa obat-obatan yang mungkin saja akan diperlukan diperjalanan.
Ya, kami janjian untuk bertemu disana saja.
Fz. Dia mengajakku untuk pergi ke suatu tempat yang dia rahasiakan.
Kami memang sudah tidak terikat hubungan apa-apa lagi, tapi janjiku yang akan selalu ada untuknya harus aku tepati. Meskipun pada awalnya cukup berat, selain karena masih ada sedikit rasa sakit hati, aku juga tidak bisa terlalu santai untuk pergi jauh-jauh karena tanggal 8 sudah ada jadwal untuk bertemu dengan dokter. Apalagi sangat sulit untuk mendapatkan jadwal yang kosong. Aku pun memberi syarat kepadanya, aku bisa ikut asalkan Minggu sore sudah ada di Bandung lagi.
Singkat cerita, dia pun setuju.
Tapi aku masih ada perasaan was-was, akan dibawa kemanakah aku? "Namanya juga surprise." Jawabnya.
Sekitar jam 8 kami bertemu di pool travel, dia langsung memberikan tiket atas namaku dengan tujuan Bandung - Pelabuhan Merak.
Aku cukup terkejut tapi kucoba untuk menahan ekspresi itu, aku hanya mengambil napas yang dalam dan panjang disertai dengan senyuman yang sedikit kesal.
"Mau kemana sih kita?"
Diperjalanan, kami mengobrol dengan sangat sangat tenang. Karena semua kursi penuh, kami takut mengganggu penumpang yang lainnya kalau ke-random-an kami dikeluarkan.
Dia mengajukan beberapa syarat yang tidak boleh dilakukan selama perjalanan 4 hari 3 malam kedepan.
Boleh share story tapi kalau bisa jangan mengobrol dengan siapa pun kecuali kepada orang terdekat saja.
Karena dia ingin perjalanan kami ini bermakna.
Agar lebih saling mengenal satu sama lain lagi, mengerti dan memahami secara luar dan dalam, dan yang lebih penting adalah belajar menikmati momen yang mungkin tidak akan bisa diulangi lagi kedepannya.
Sempat terpikirkan olehku dan bertanya-tanya bahkan sedikit waspada, "Ada apa nih? Apakah karena dia mempunyai penyesalan? Ataukah ada maksud dan tujuan lainnya yang sejauh ini masih belum aku perkirakan? Atau mungkin ini kebiasaannya yang seperti dulu nothing to lose saja?" Ah ya sudahlah. Aku mencoba untuk ikut serta menikmati perjalanan ini.
Sekitar jam 2 siang kami baru sampai ke pelabuhan Merak.
Setelah istirahat untuk makan siang dan pergi ke toilet sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju kapal feri yang sudah bisa dipastikan bahwa kami akan pergi ke pulau Sumatera, pelabuhan Bakauheni - Lampung.
Jam 4 kapal kami baru berangkat. Mungkin karena terkendala banyaknya antrian mobil besar yang masuk dan cuaca yang kurang baik, makanya jadwal keberangkatannya menjadi lebih lama.
Diperjalanan juga cukup lama.
Sekitar jam 7 kami baru berlabuh di pelabuhan Bakauheni. Untuk pertama kalinya aku memasuki pulau Sumatera bersama orang yang aku pikir penuh dengan kejutan tapi cukup mengkhawatirkan. Karena aku memberanikan diri untuk mempercayakan perjalananku bersama dia yang baru beberapa hari kebelakang cukup merusak perasaanku.
Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah telanjur berjanji, aku juga sudah tidak bisa kembali selain ikut serta menikmati perjalanan ini dengan penuh kepercayaan dan keterpaksaan.
Begitu sampai di pelabuhan Bakauheni, kami langsung makan malam sambil sedikit membicarakan hal-hal tidak penting seperti biasanya.
Jam 9 lebih aku diajak berjalan kurang lebih 5 menit menuju sebuah pool travel.
Mulai saat itu aku berhenti bertanya kepadanya, karena sudah hampir ratusan kali aku bertanya kita akan pergi kemana tapi jawabannya tidak pernah ada, aku pun hanya fokus untuk istirahat saja.
Sesekali aku terbangun karena jalan yang bergelombang. Aku juga beberapa kali melihat jam di HP, jam 2, jam 3, jam 4 pagi mobil berhenti di sebuah tempat makan yang tidak terlalu besar. Semua penumpang turun untuk ke kamar mandi, ada yang sekedar merokok, ada juga yang sholat subuh, sedangkan aku hanya tertunduk lesu di kursi sendirian. Dia entah pergi kemana. Ada sedikit rasa menyesal, tapi "ah ya sudahlah".
Aku membuka map dan memberanikan diri untuk menekan "my location". Tring! JALAN MUARA DUA - LIWA. Lokasi terdekat ada SMPN 1 Sukau.
Aku tidak mau stres, aku keluar mobil, mencari dia, aku melihatnya sedang merokok dan mengobrol bersama orang-orang. Aku lambaikan tangan, tidak butuh waktu lama dia langsung menghampiriku sambil cengengesan khas-nya yang menyebalkan.
"Kita mau kemana?" Tanyaku setengah marah.
---
Jum'at, 5 Januari.
Tiba-tiba pundakku ditepuk-tepuk oleh dia. Mengganggu waktu istirahatku saja.
Jam 6:30 pagi.
Ketika aku membuka mata, tenyata kami berdua adalah penumpang terakhir dengan tujuan paling akhir juga.
Ketika turun dari mobil, kami sudah berada di depan sebuah penginapan yang cukup sederhana. Meskipun pada akhirnya aku baru tau bahwa itu adalah satu-satunya tempat menginap terbaik yang ada di daerah itu.
Karena aku sudah mengetahui rencana perjalanan kami akan pergi kemana saja, sekalipun aku ada di antah berantah dan jauh dari jangkauan manapun, setidaknya overthinking-ku cukup berkurang, meskipun merusak rencana kejutan yang sudah dia susun, aku ada di tahap sangat tidak peduli lagi, dalam artian salah dia sendiri kenapa main rahasia-rahasiaan segala. Sudah tau kalau aku paling tidak suka "elemen kejutan" yang membuat jantungku ini menjadi kacau balau bukan malah senang gembira bak anak kecil dikasih balon.
Sorry.
Setelah sarapan, kami beristirahat sampai jam 12 siang dan skip sholat Jum'at.
Lagi dan lagi mataku tidak bisa diajak kompromi, rasa lelah karena perjalanan dan mungkin karena efek obat tidur yang aku minum, aku kurang bisa mengimbangi antusias dia yang betapa hebohnya mempresentasikan awal mula terbentuknya daerah itu.
Setelah makan siang, datang 2 orang yang mengantarkan motor untuk kita kendarai menuju sebuah tempat wisata yang tidak begitu jauh dari sana. Tentu saja dia sudah mengatur semuanya. Aku hanya tinggal duduk manis dan diharuskan memakai kacamata hitam karena kelopak mataku sedikit menghitam karena kebanyakan minum obat tidur itu. Selain kantung mataku yang menghitam, pikiranku juga mengawang. Aku benar-benar seperti orang jompo yang mabuk perjalanan. Dia mah asyik-asyik saja.
Setelah berkendara kurang lebih 20 menit, sampailah kami disebuah danau yang menurutku cukup indah, namanya Danau Ranau.
Setengah eling aku mencoba untuk membuka mata dan hati juga pikiran agar ada kesempatan untuk healing from anything meskipun bingung juga kesakitan aku karena apa, ya. Karena sejauh ini aku tidak merasakan beban atau trauma apalagi harus ada yang perlu disembuhkan. Mungkin aku mengikuti istilah healing saja seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Kami menaiki perahu, tapi aku tidak berani berdua karena takut mati tenggelam. Mana jauh ke kampung halaman pula. Akhirnya bertiga sama si bapaknya dan bodo amat dengan reaksinya yang mungkin dan pasti juga mendengarkan beberapa pertengkaran aku bersama dia mengenai hal-hal yang tidak penting untuk diperdebatkan ditengah danau yang bisa kapan saja ditenggelamkan oleh si bapaknya. Sungguh tidak tau malu memang, dasar.
Kami juga menyempatkan waktu untuk membicarakan hal-hal yang belakangan ini menjadi masalah diantara kami, tentu saja setelah kami sampai di darat karena tidak mungkin juga kami membahas hal seperti itu di tengah danau bersama pemilik perahu juga. Oh Tuhan!
Jam 3 sore kami kembali ke penginapan untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju kota Palembang.
Aku masih belum tau tujuan utama kesana selain harus mencoba makan pempek kapal selam yang selalu dia katakan.
Aku hanya duduk manis ditengah rasa "ngawangku" dan sesekali tertawa seperti orang tolol yang suka mabok di terminal. Aku tidak tau bagaimana reaksi penumpang yang lainnya. Untungnya aku memakai masker dan kacamata hitam, padahal sudah 2 kali minum kopi atas rekomendasi dari Neng Nia.
Sekitar jam 5 sore kami berangkat dari Danau Ranau yang tepatnya baru aku ketahui berada di Kecamatan Sukau, Lampung Barat. Kalau salah ya maaf, harap maklum.
Kami 1 kali istirahat di sebuah rest area Tol Palembang - Indralaya. Tentu saja aku hanya pergi ke toilet dan kembali masuk ke mobil. Ada rasa takut tertinggal di antara pelosok negeri entah dimana pikirku.
---
Sabtu, 6 Januari.
Sebenarnya kota Palembang adalah tempat asal keluarga ayahnya. Dulu dia pernah diajak melakukan perjalanan darat bersama keluarganya dengan rute yang sama persis seperti saat ini. Mungkin dia ingin bernostalgia?
Jam 1 dini hari kami sampai di sebuah hotel yang tidak jauh dari universitas Muhammadiyah.
Kami tidak langsung beristirahat, karena mungkin selama perjalanan kami sudah merasa cukup untuk tidur. Akhirnya kami memesan beberapa makanan termasuk pempek kapal selam yang selalu dia katakan.
Sejujurnya sangat amat enak sekali. Sangat beda dari pempek yang ada di Bandung. Tapi ya sudah, it's just a food.
Rencananya pada pagi harinya dia mau pergi ke rumah salah satu kerabatnya, mengajakku tentu saja. Tapi jiwa "plin-plan" yang semula ada di aku rupanya mulai mengakar kepadanya.
Tiba-tiba saja dia merubah rencana awalnya dan jam 11 aku diajak siap-siap untuk pergi ke bandara karena dia sudah memesan tiket untuk penerbangan jam 12:40
Penerbangan kemana?
Untungnya jarak dari hotel ke bandara kurang dari setengah jam.
Setelah boarding baru diketahui kalau kita akan pergi ke Solo.
Di ruang tunggu bandara kami mengobrol seperti biasanya. Pada kesempatan itu aku bertanya dengan cukup serius alasan kenapa dia tidak jadi berkunjung ke rumah keluarganya.
Jawabannya simple tapi aku cukup mengerti apa maksudnya.
"Aku takut penerimaan mereka tidak seperti saat ayah masih ada."
Aku sangat mengerti bagaimana rasanya, karena aku juga ada di posisi yang hampir sama.
Setiap aku berkunjung ke Sumedang untuk ziarah ke makam mamah, beberapa kali menyempatkan waktu untuk mampir ke rumah nenek dan saudara-saudara yang lainnya. Rasanya memang beda. Aku tidak tau kenapa, entah memang karena keadaan atau adanya perubahan. Tapi aku tidak selalu memasukkan hal seperti itu untuk disimpan dalam bentuk apapun, aku menganggapnya seperti angin berlalu saja. Makanya aku lebih fokus kepada keluarga yang masih menanyakan kabarku, bertanya tentang kesehatanku, dan mereka yang masih bersedia untuk menerima kedatanganku dalam keadaan apapun.
Hal itu juga yang aku katakan kepadanya.
Jam 3:30an kita baru landing di Solo.
Kenapa Solo?
Solo AKA Surakarta adalah salah satu kota yang bersejarah bagiku. Terakhir aku berkunjung pada tahun 2015 akhir sebelum medical check-up pertama. Sudah pernah aku tulis juga di blog yang satu lagi entah di part berapa.
Beberapa waktu yang lalu aku pernah bercerita tentang Solo yang menjadi destinasi jika suatu saat ada kesempatan lagi.
Makanya dia memutuskan untuk menjadikan Solo sebagai kota terakhir untuk kita singgahi.
Begitu sampai di bandara, kami menuju hotel hanya untuk menyimpan barang saja dan berlanjut ke sebuah tempat yang menurutku cukup indah. Mall? Bukan dong.
Tapi ke sawah dan layang-layang juga mampir ke waduk Cengklik karena kebetulan terlewati juga.
Aku menuju sebuah tempat namanya desa Senting, perum Mahkota Alam jalan Sutera untuk bertemu seseorang disana.
Aku juga diajak bermain layangan oleh Yuda yang sewaktu 2015 umurnya baru 3 tahun. Sekarang dia sudah kelas 6 SD.
Itu seru banget sih.
Pada malam hari kita kembali ke hotel untuk beristirahat karena keesokan harinya kita harus pulang ke Jakarta dengan pesawat jam 9 pagi.
---
Minggu, 7 Januari.
Jam 6 kami bangun lanjut siap-siap, kemudian turun untuk sarapan.
Jam 7 kami kembali ke kamar untuk mengambil barang dan lanjut berangkat ke bandara Adi Soemarmo.
Jam 10:30 kami sudah sampai di bandara Halim Jakarta untuk berlanjut ke stasiun Gambir menuju ke Bandung. Tadinya mau memakai travel tapi tidak ada yang ke daerah Bandung Barat, karena tidak mungkin juga dia harus ke Bandung Kota dulu. Kalau memakai kereta dia bisa turun di stasiun Padalarang.
---
8 Januari 2024.
Aku sedang berada di RSHS untuk bertemu dengan dokter spesialis lagi.
Kantung mataku masih sedikit hitam, terlihat sebam dan sayu, tapi tidak terlalu parah.
Banyak hal yang bisa aku pelajari dari perjalanan singkat tapi jauh itu.
Jangan pernah ragu untuk mengungkapkan perasaan dan keinginan kepada semua orang yang pantas untuk mendengarnya, bagaimana reaksi dan responnya nanti jangan terlalu dipikirkan diawal, karena bagaimana bisa tau kalau keberaniannya saja belum ada.
Tentang menjadi diri sendiri.
Tidak lagi menjadi suatu beban atau penghalang untuk mengekpresikan juga membuka jati diri kepada semua orang yang memang seharusnya mereka ketahui. Entah itu kurang baik di mata orang lain, selama kamu nyaman dan bahagia maka semua itu tidak perlu dipermasalahkan. Lagi pula orang yang menyayangi kita tidak akan pernah melihat sisi tergelap yang kita miliki. Mereka akan tetap menerima kita apa adanya.
Tetaplah menembus batas dan aturan yang ada. Tidak perlu berjalan ditengah landasan jika memang itu tidak membuatmu nyaman. Kamu bisa memilih jalanmu sendiri, kamu bisa menentukan pilihan atas dasar keinginan terdalam untuk hidupmu. Kamu adalah kamu bukan tentang apa yang dilihat dan dipikirkan oleh orang lain.
Selebihnya mungkin jika mau bepergian jangan mengkonsumsi obat tidur yang berlebihan. Karena begitu terasa nyawaku seperti mau terlepas dari badan begitu saja.
---
17 Mei 2024.
Beberapa kali kita bertemu. Tapi rasanya memang sudah cukup untuk membuat semuanya jelas tanpa perlu ada sesuatu yang perlu diungkapkan satu sama lain lagi diantara kita. Terkadang aku memang masih merindukanmu, tapi bukan suatu rindu yang harus bertemu. Aku hanya merindukan momennya saja tidak beserta orang di dalamnya.
Lagi pula aku juga merindukan orang yang lain.

Cerita yg indah. Jemput lah impian indahmu. Gak semua org punya mimpi seindah itu, lho...
ReplyDelete