![]() |
| Pasir Pariuk, 23-05-2024 |
Aku rindu, tapi aku tidak mencarimu.
Aku ingin bertemu, tapi aku tidak mendatangimu.
Aku ingin bicara, tapi aku tidak menghubungimu.
Semua itu bukan hanya tentang aku tidak ingin mengganggumu, tapi,.
---
Sekarang aku masih menjalin sebuah hubungan bersama seseorang yang dimulai sejak 2017. Tapi sekarang aku juga sedang memikirkan orang lain selain dia, dan orang itu adalah kamu. Kamu yang hadir ketika hubunganku bersama dia pada tahun 2022 sedang tidak baik-baik saja. Meskipun hubunganku dengannya sekarang kembali baik-baik saja, tapi kehadiranmu sejak saat itu tidak pernah lepas dari ingatanku.
Aku kembali mengingat masa itu, masa dimana untuk pertama kalinya aku melihat profil akun sosial mediamu, kemudian bertanya siapa dirimu. Ada sedikit rasa sesal kenapa aku harus menjadi manusia yang paling friendly seperti kala itu. Kalau di ingat sekarang rasanya aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Meskipun pada akhirnya kita akan tetap saling mengenal dengan cara yang berbeda. Dan pada akhirnya pula kita akan tetap seperti tidak saling mengenal lagi seperti saat ini.
Lebih tepatnya kita pura-pura tidak saling mengenal, seperti dua orang yang tidak pernah duduk berdua dan bercerita tentang kehidupan, seperti dua orang yang tidak pernah menjelajahi jalan yang curam untuk melihat keindahan pantai, seperti dua orang yang tidak pernah saling menutupi kemaksiatan dari keluarga kita masing-masing, seperti dua orang yang tidak pernah berebut gelas untuk diisi anggur yang murah juga berbagi sepotong pil halusinasi, dan kita seperti dua orang yang benar-benar asing bahkan disaat berpapasan kurang dari sejengkal pun kita sama-sama saling dingin.
Tapi dari kepura-puraan itu aku tau satu hal bahwa kita masih saling memikirkan satu sama lain. Terbukti dengan diriku yang tetap menulis ini dan kamu yang, yang apa ya. Ataukah kamu benar-benar sudah melupakanku?
Andai saja pada saat itu kamu tidak pernah meminta pertemanan di sosial media, atau aku yang tidak menyetujuinya, atau aku tidak bertanya siapa dirimu, atau kamu tidak menjawabnya, atau kita tidak pernah bercerita hal-hal yang membuatku nyaman, mungkin pada saat ini aku sedang memikirkan orang lain dan mungkin fokus dengan hubunganku yang sejatinya ada atau tidak ada kamu pun tetap baik-baik saja.
Meskipun kita bersaudara, tapi pada awalnya aku benar-benar tidak pernah mengenalmu dan tau siapa kamu. Tanpa akun sosial media itu, mungkin kita bisa saling berkenalan dan dekat dengan natural selayaknya saudara jauh yang baru pertama kali bertemu, dan aku juga yakin dengan rasa yang tidak akan timbul seperti saat ini.
Kita hidup dalam banyak kemungkinan.
Satu hal yang terjadi dan dilakukan akan berdampak terhadap hal yang lainnya. Besar atau kecil dampak yang ditimbulkan, semua dimulai dari hal kecil yang dilakukan, dan itu mengubah kemungkinan yang lainnya juga. Dan kemungkian itu adalah aku tidak akan pernah mempunyai rasa sedalam ini padamu.
Tapi apapun dan bagaimanapun situasinya sekarang, aku selalu yakin bahwa kita akan tetap baik-baik saja seperti dulu.
Karena untuk saat ini aku sedang bingung dan bertanya-tanya, apakah aku ada salah kepadamu yang hingga akhirnya seperti ada sebuah penghalang diantara kita.
Aku merindukanmu.
Tapi aku tidak mampu untuk mengatakan itu kepadamu. Andai saja kamu tau, sedikit kabar darimu selalu kutunggu. Ingin rasanya kusapa dirimu, tapi aku takut sapaku jadi pengganggu.
Aku selalu ingin bertanya bagaimana kabarmu.
Hai, apa kabar?
Mungkin kamu latah dengan menjawab bahwa kamu baik-baik saja seperti biasanya. Tetapi bisa saja jawaban "baik-baik saja" itu berarti kamu tidak ingin orang lain mengkhawatirkan hidupmu atau kamu sendiri yang malah tidak pernah mengkhawatirkan hidupmu sendiri.
Jika ada kesempatan, aku ingin mengatakan beberapa hal.
Di tengah-tengah hidup yang penuh dengan segala rintangan dan juga tantangan, aku hanya ingin mengatakan kepadamu bahwa kamu jangan pernah lupa untuk mengapresiasi dirimu sendiri. Aku tau beban yang kamu pikul itu mungkin sangat berat dan juga sangat besar, tetapi please be gentle dengan dirimu sendiri. Karena dirimu itu adalah rumah bagi mimpimu, rumah bagi harapanmu, dan juga rumah bagi doamu.
Jika ada yang belum mengatakannya untukmu sampai hari ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa kamu sudah hebat, dan aku sangat bangga pada dirimu. Itulah salah satu alasan aku masih tetap mengangumimu sejak pertama aku mengenalmu bahkan sampai saat ini, saat dimana kita sedang berada diambang apakah akan tetap menjadi asing atau seperti dulu.
Aku juga minta maaf jika pernah membuatmu sakit hati atau merasa tidak enak atas semua perlakuan dan sikapku selama ini.
Nanti kalau ternyata waktu memberi kita kesempatan untuk duduk dan berbicara lagi, akan aku ceritakan bagaimana susah payahnya mengalihkan pikiranku dari kamu.
Aku juga mau bilang terimakasih dan maaf atas semua rasa dan perasaan ini. Kamu sudah pernah mengetahui bagaimana perasaanku padamu. Berjanjilah untuk selalu hidup dengan baik seperti biasanya, untuk keluargamu, orang-orang yang kamu sayangi dan untuk dirimu sendiri. Kamu akan tetap menjadi pemeran utama yang tidak akan tergantikan oleh siapapun. Dan kamu juga berhak untuk mendapatkan kesempatan memilih dengan siapa ingin bersama dan berbahagia.
Perihal rasaku?
Biarkan ini menjadi pilihanku.

No comments:
Post a Comment