Laman

Saturday, 11 May 2024

Jatuh Hati (Part 2)



 2021.


Setelah selesai menghadiri acara pernikahan saudaraku, aku kembali ke Bandung.


Beberapa hari kemudian aku membuka akun facebook yang sebenarnya sudah sangat jarang aku buka. 

Biasanya aku hanya membuka facebook untuk membeli barang yang tidak penting saja.

Aku mengecek beberapa permintaan pertemanan yang berderet. Tiba-tiba aku tertuju pada satu akun dengan nama HD. Aku melihat profil dan foto-fotonya tapi tidak mengenalinya, tapi teman bersama kami adalah orang-orang yang aku kenal semua, termasuk kakak sepupuku. 


Pada saat itu aku tidak banyak berpikir untuk langsung menerima permintaan pertemanan darinya.

Sempat aku bertanya kepadanya, "siapa ya?". 

Dia pun membalasnya, "aku HD adiknya Teh R. Kemarin acara jalan-jalannya seru ya?". 

Karena aku tidak mengenalnya, percakapan kami berakhir sampai di sana.


Pada bulan Agustus 2021 aku dan orang yang masih bersamaku sampai saat ini memutuskan untuk pindah ke Jakarta. 

Banyak alasan mengapa kami ingin pindah. Selain memang sudah jenuh karena terlalu lama tinggal di Bandung, kami juga beralasan ingin merasakan bagaimana hidup di kota Jakarta yang menurut pandangan dia akan menjadi pengalaman yang baru. Kalau bagiku itu sudah bukan menjadi hal yang aneh, bahkan 2 bulan sebelumnya aku sempat bekerja di Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur bersama temanku yang lain. 


2022.


Pada saat itu aku yang mulai merasa jenuh dengan kehidupan dan rutinitas di Jakarta. Meskipun aku menyukai daerah panas, tapi aku sudah hidup di kota Jakarta dari mulai mengerti apa itu kehidupan.

Ada perasaan ingin memulai usaha sendiri. 

Kebetulan juga pada saat itu sudah mengobrol dengan suami dari kakak keduaku yang di Banjaran. 

Kami ingin membuka usaha pencucian motor. 

Bagiku itu adalah sebuah terobosan untuk keluar dari zona nyaman yang selama itu sudah terlalu panjang aku jalani.

Tapi yang menjadi kendala adalah tentang kekurangan modal untuk memulai usaha kami. 

Aku berpenghasilan, tapi kalau untuk biaya membuka usaha pencucian motor belum memungkinkan. 


Pada saat itu kebetulan momen Idul Fitri. 

Aku pulang ke rumah. 

Pada satu kesempatan aku meminta bantuan dana dari Ayahku. Tentu saja dengan segala rincian yang sudah aku hitung bersama dengan suami dari kakak keduaku. 

Tapi responnya ternyata tidak sesuai dengan harapanku. 


Patah hati terbesar sepanjang hidupku ternyata  bukanlah oleh gebetan ataupun pacar apalagi oleh hal-hal yang bersifat percintaan, melainkan oleh Ayahku sendiri.

Di saat aku sebagai anak yang mempunyai mimpi dan rencana untuk kehidupanku yang lebih baik, tapi dia malah mematahkan dan menghancurkan semuanya.

Selain tidak mendukungku, dia juga dengan terang-terangan menyatakan untuk tidak akan pernah lagi setuju dengan impian-impianku hanya karena dia terlalu kuat dengan perhitungan dan pendiriannya tanpa pernah bertanya bagaimana perasaanku. 

Mungkin dia selalu yakin dan benar dengan logika-logikanya, aku akui itu. Tapi dia lupa dan tidak sadar akan perasaannya yang menurutku sudah terhapus dari dirinya, bahkan dari hidupnya. 


Sedih, kecewa, marah, sakit hati dan segala rasa lainnya menyatu menjadi sebuah badai penghancur untuk mentalku. 

Padahal selama aku hidup tidak pernah meminta apapun kepadanya. 


Pada saat itu aku benar-benar merasa terasingkan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengerti keadaanku, termasuk pasanganku. 

Padahal selama kita bersama aku tidak pernah menuntut apa pun darinya. 

Dan pada saat aku membutuhkan seseorang yang bisa menenangkan atau sekedar mendengarkan isi hatiku saja dia tidak bisa. 


Sampai ada momen aku teringat pada seseorang yang bernama HD. 

Setelah hampir satu tahun kita tidak bersapa lagi, mungkin karena pada saat itu aku sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, aku kembali meneruskan percakapan yang sempat tertunda itu. 


---


Flashback 2005-2006.


Ketika aku kelas 2 SMP semester 2, untuk pertama kalinya aku pergi dari rumah dan pertama kalinya juga naik kendaraan umum sendirian. Tujuan utamaku adalah rumah kakak sepupuku yang ada di Banjaran, anak dari Ua-ku.

Beberapa Minggu kemudian dengan resmi aku pindah ke Banjaran dan tinggal bersama mereka, karena aku ingin pindah sekolah. 

Itu hal menyenangkan dalam hidupku, tapi hanya awalnya saja. 

Setelahnya lebih parah dari apa yang pernah aku rasakan sebelumnya. 

Mungkin karena saat itu mereka baru memulai rumah tangga dan kebetulan mereka juga baru mempunyai anak. Mereka belum pengalaman mengurus anak apalagi yang umurnya seusiaku. 

Percaya atau tidak, itu momen yang paling menyedihkan selama satu setengah tahun. 

Di rumah sudah pasti tidak ada rasa nyaman, di sekolah pun demikian. Aku mengalami yang namanya bully, bisa dibayangkan betapa menyedihkannya pada saat itu. 

Kalau aku mendengar kata Pasir Pariuk dan Al-Falah rasanya seperti tidak ada kalimat yang bisa menjabarkan betapa bencinya aku. 

Kalau ada kata melebihi benci, mungkin bisa aku gunakan kata itu. Karena semua ingatan buruk itu pasti langsung muncul di kepalaku. Menyedihkan, menyakitkan, menakutkan, salah satu trauma yang paling mendalam. 


Ya, aku sangat tidak menyukai tempat itu selama bertahun-tahun. 

Ketika mengingat tempat itu rasanya semua ingatan buruk kembali datang mengganggu dan menyakiti perasaan. 

Aku tidak akan pernah menyalahkan mereka ataupun keadaan, tapi ini tentang diriku yang memang takdirnya harus melewati momen itu.

Kalau boleh jujur, aku sangat ingin melihat senyuman dan sambutan dari mereka kala itu yang tidak pernah aku dapatkan dari orang tuaku. Tapi pada kenyataannya mereka juga baru belajar menjadi orang tua. 


Tapi itu dulu. 

Sebelum aku mengenal HD yang memberiku banyak pelajaran bahwa hidup ini bukan hanya tentang perjalanan tapi paksaan, paksaan untuk hal baik ataupun hal buruk, mau tidak mau itu adalah jalannya dan aku harus bisa berdamai dengan semua itu.

Aku sangat membenci mereka, kakak sepupuku, Ayah, saudara-saudaraku, dan semua orang yang anggapanku akan menjadi orang yang bisa mengerti diriku dan tahu apa mauku, tapi mereka sudah mempunyai kehidupan dan permasalahannya masing-masing, mau tidak mau aku harus bisa menerima itu karena memang seperti itulah kenyataannya. 


Mulai saat itu aku merubah cara pandangku terhadap dunia, bahwa aku tidak bisa merubah dan mengontrol apa yang terjadi di luar sana dan banyak hal yang sudah pernah terjadi juga tentang pribadi orang lain seperti Ayahku yang mempunyai pendirian yang keras, atau apa pun itu. Aku hanya bisa mengendalikan bagaimana responku akan apa yang terjadi. Terkadang tidak semua hal membutuhkan respon, karena ada kalanya cukup mempunyai rasa menerima saja sudah cukup, memang sangat sulit pada awalnya. 


Tampang dia mungkin terlihat tidak meyakinkan, tapi keahlianku adalah menggali obrolan dalam dan mengembangkannya lalu mengolah apa yang diucapkan oleh orang lain menjadi sesuatu yang bisa berguna bagi kehidupanku ke depannya.

Terbukti aku bisa banyak mengambil hikmah dari perkenalan dan beberapa kali pertemuan kita. 


Oya, beberapa kali kita bertemu. 

Tidak ada yang tahu selain teman di tempat berjualannya sama saudaraku saja. Beberapa kali juga kita menghabiskan waktu bersama. 

Aku juga mulai bisa dekat lagi dengan kakak sepupuku sejak saat itu bahkan sampai saat ini. 

Jelas, dia adalah kakakku juga. "Sepupu" di sini hanya sebutan. Pada kenyataannya dia adalah sosok kakak bagi kami adik-adiknya, bahkan menjadi contoh baik bagi kami semua. 


Aku sempat membenci semua orang yang ada di dekatku. Mereka yang seharusnya bisa menjadi orang yang bisa menenangkan dan mungkin membantuku melewati masa itu, tapi kenyataannya mereka hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. 

Aku mengerti dan begitu paham kenapa semua itu terjadi, salah satunya adalah karena aku tidak pernah dekat dengan mereka. 

Aku juga selalu terlihat baik-baik saja. 

Besar kemungkinan tidak akan pernah ada dari mereka yang menyadari bahwa kala itu aku sedang benar-benar merasakan keterpurukan. 


---


Beberapa hari setelah lebaran aku kembali ke Jakarta. Kalau tidak salah itu pertengahan bulan Mei. 

Aku sempat bercerita tentang semua yang terjadi kepada dia, tapi responnya yang sangat datar seolah-olah aku bisa mengatasinya sendirian sebagaimana aku selalu berusaha menyelesaikan permasalahan lainnya. 


Sampai ada momen aku teringat pada seseorang yang bernama HD 

Setelah hampir satu tahun kita tidak bersapa lagi, dan mungkin kebetulan juga pada saat itu aku sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, aku kembali meneruskan percakapan yang sempat tertunda selama hampir setahun itu.


Tenyata dia sedang bersekolah di sekolah yang sama pada saat aku di Banjaran dulu. 

Dia juga bercerita tentang kesehariannya, menjelaskan silsilah keluarga dia yang sebenarnya aku tidak tahu dia itu yang mana karena pada saat aku tinggal di sana aku tidak pernah bertemu dan tahu kalau itu adalah dia. 

Bahkan dia juga bilang bahwa sudah beberapa kali melihatku, berkali-kali juga pergi ke daerah rumahku, Ciyuda. Bahkan dia juga pernah ke rumah Ua-ku. 


Aku tahu keluarganya siapa saja, jelas. Aku tinggal di daerah itu satu setengah tahun. Tidak ada satu orang pun yang tidak aku kenal. 

Tapi aku masih tidak tahu siapa dia. 

Sampai ada di mana aku memberanikan diri untuk bertanya tentangnya kepada kakak sepupuku bahkan kepada saudaraku yang lain. 


Aku juga bercerita tentang keadaanku pada saat itu. Dari mulai permasalahan keluarga sampai percintaan. Yang jelas dia juga menjadi tahu bagaimana diriku secara garis besar, tapi hanya sebatas itu saja. Dan dia tidak mempermasalahkan semuanya, apalagi tentang pribadiku yang sudah jelas menjadi pilihan hidupku, yang sejatinya tidak mudah untuk sampai ke tahap itu.

Sebenernya tidak terlalu mendalam, hanya obrolan biasa dan mengalir begitu saja. 


Semakin hari semakin intens cara berkomunikasi kami. 

Segala hal ditanyakan, saling bercerita keseharian masing-masing, apa pun itu. 

Dia juga berjualan demi agar bisa membantu perekonomian keluarganya. 

Kami sama-sama saling memberi semangat. 


Lagi-lagi ini tentang kesederhanaan dan sisi dewasa yang selalu aku lihat dari seseorang. 

Di umurnya yang bisa dibilang masih jauh dari umurku, ternyata dia mampu melakukan itu semua yang sudah jelas aku belum tentu bisa melakukannya.

Dari caranya berbicara, mendengarkan, menanggapi, mungkin akan terdengar berlebihan jika aku katakan bahwa itu membantuku melewati masa-masa tersulit.


Sebulan kemudian aku pulang dari Jakarta dan tinggal bersama kakak keduaku di daerah yang tidak jauh dari rumahnya. Dekat-dekat Banjaran juga tapi beda kecamatan. 

Aku bercerita bagaimana hubunganku dengan pasanganku kala itu kepada kakak keduaku. Tentu saja dia sudah mengetahuinya. Selain itu juga aku masih sedang berusaha menerima kenyataan tentang apa yang terjadi dalam hidupku mengenai perlakuan Ayah kepadaku.


Oh iya, pada saat itu aku sudah memutuskan hubungan dengan pasanganku. Karena aku sudah merasa kecewa dengannya. Dia orang yang seharusnya membantuku melewati masa-masa itu, tapi kesempatan itu tidak dia lakukan. 

Sekian tahun aku memaklumi keadaannya yang sama sekali tidak pernah kutemukan keselarasan antara obrolan dan banyaknya pembahasan di antara kami. Aku yang sejatinya sangat suka membahas apa pun tapi menurunkan standar-ku hanya agar bisa menyamainya. Aku menerima dia apa adanya, apa pun itu. Tapi tidak ketika aku sudah menemukan kekecewaan darinya, karena aku tidak pernah sekalipun mengecewakan dia. 

Aku selalu berusaha ada dalam keadaan apa pun untuknya. Menjadi pendengar yang baik, pemberi solusi yang tepat, mengingatkan bahkan mengajarinya banyak hal dari setiap pelajaran hidup yang pernah aku lewati.


Dia mengatakan kalau dia akan berubah dan masih sayang kepadaku. Pada saat itu dia masih tinggal di Jakarta sendirian. Dia kenal teman-temanku, Eka, Fe, Yudis dan Khillad . Tapi selama ini dia tidak pernah jauh dariku. Bertahun-tahun kita bersama. Dan pada saat itu dia merasakan bagaimana jauh dariku, tanpaku. Kita kembali berhubungan tapi sejujurnya rasa kecewa itu tetap ada dan rasa itu pun sudah tidak lagi sama. Tapi aku tetap menerimanya lagi dengan harapan bahwa dia akan berubah menjadi orang yang akan selalu ada untukku seperti aku yang selalu ada untuknya.


Setelah sekian lama aku tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, akhirnya aku bisa merasakannya kembali, senyum-senyum tidak jelas, merasa indah tapi merasa jijik seketika menolak untuk menerima bahwa aku jatuh cinta lagi. 

Terakhir aku jatuh cinta itu bulan November 2017, dan sejak saat itu aku tidak pernah terbayangkan akan merasakan hal seperti itu lagi.

Oh iya, aku masih punya pasangan saat itu, kita sudah berjalan hampir mau 5 tahun. Kita baik-baik saja, tidak ada hal yang bisa dijadikan alasan untuk berpisah, aku tidak pernah keluar dari jalur dan dia pun juga begitu. Selain karena alasan aku pernah dikecewakan, aku tidak menemukan alasan lain lagi.


Aku orang yang mudah jatuh cinta dengan orang yang sederhana, sebelumnya memang selalu seperti itu. 

Yang membuat aku jatuh cinta lagi adalah dia membawaku ke cerita di mana aku hidup 17 tahun lalu, seumur dengan dia saat ini. Saat itu aku masih kelas 3 SMP. Banyak kenangan di sana. Tapi aku menolak untuk datang ke tempat itu karena terlalu sakit saat aku mengingatnya, tapi setelah aku membangun sebuah ikatan dengannya, bukannya semakin sakit tapi yang ada malah semakin damai, aku menerima perlakuan mereka semua kala itu, itu bagian dari masa lalu. 

Aku mencoba berdamai dengan masa laluku, meskipun luar biasa sakit, tapi aku mencoba untuk fokus ke hal-hal yang membuat aku bahagia, seperti saat ini.


Apakah salah ketika sudah berpasangan dan jatuh cinta lagi? 

Aku pikir tidak. Tapi sangat berbahaya jika diteruskan. Karena akan ada hati yang tersakiti, pasangan. Aku akan sakit hati jika diteruskan jika dia tidak memiliki perasaan yang sama. Akan banyak orang yang sakit hati juga jika diteruskan, apalagi jika kita saling memiliki perasaan yang sama, karena akan banyak hati yang kecewa. Aku kenal dan tahu orang-orang di sekitar dia, begitu pun sebaliknya. 


Dengan adanya hal seperti ini aku semakin merasa dewasa dan berkesempatan untuk lebih fokus dengan hidupku sendiri, tidak semua harus kita miliki, kita bisa menolak untuk jatuh cinta dan merubah rasa itu menjadi perasaan yang lain. Karena cinta itu tidak nyata, itu hanya magnet, itu hanya awal dari sesuatu, hanya pemanis, karena ke depannya akan hilang dengan sendirinya. 


Aku kagum dengan diriku sendiri dan bahkan sangat bangga, bahkan sangat amat merasa kuat saat bisa berhenti jatuh cinta dengan banyak alasan dan pertimbangan. 


Entahlah, mungkin jika hal itu terjadi beberapa tahun lalu, aku akan menghalalkan segala cara untuk kembali meneruskan hal seperti itu. Tapi sedewasa ini aku semakin paham dan sadar akan banyaknya akibat yang ketika aku mengambil sebuah risiko dalam suatu keadaan kemudian menerima dan berdamai dengan semua itu, maka itu adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan. 

Bukan untuk kebaikan orang lain tapi untuk diriku sendiri, karena bukan saat yang tepat pada saat itu untuk jatuh cinta apalagi sampai memulai sebuah hubungan dengan orang yang baru. 


Apakah aku pernah mengungkapkannya?


Aku pernah ke tahap jatuh cinta kepada seseorang yang begitu dalam yang dimulai dengan sebuah kekaguman yang sederhana. 

Dulu, aku selalu bisa melupakan hal yang seperti itu, entah berkenalan dengan orang baru atau menyibukkan pikiran dengan hal-hal lainnya, tapi untuk kali ini aku bisa bertahan selama ini, Mei - Desember itu bukan waktu yang sebentar untuk terus berusaha menghindar, tapi semuanya seperti magnet yang terus menarik ke dalam waktu dan kesempatan yang tidak pernah terduga sebelumnya. 

Dalam satu waktu pernah ada pada fase tersadar dan berusaha melupakan, dan ya sudah, aku memutuskan untuk melupakannya, menghapus kontaknya dan apapun tentangnya. Kita berhenti berhubungan pada saat aku ulang tahun bulan Juni 2022 lalu, tapi kita kembali dipertemukan dalam satu momen yang tidak pernah aku kira sebelumnya, salah satunya ketika sholat Idul Adha di sebuah masjid (Paspar). 

Bayangkan saja ketika sudah berusaha untuk melupakan seseorang tapi dipertemukan lagi, dan yang lebih awkward-nya lagi adalah harus bersalaman juga pura-pura tersenyum.


Pertama kali aku bertemu dengannya itu ketika aku baru pindah lagi ke Banjaran, dan itupun tidak langsung bertemu karena saat itu aku dalam proses sembuh dari patah hati oleh keluarga ditambah baru putus dengan pasanganku juga yang kala itu. 

Dan mungkin momen itulah yang menjadi awal mula masuknya perasaan sampai saat ini. 

Ketika tidak ada satu orang pun yang mampu mencoba untuk membantu meringankan beban di hati, tapi dia bisa. 

Aku akan mengakuinya bahwa dialah orang yang paling berarti dikala itu. 


Dan beberapa kali bertemu, aku main ke tempat dia, drink drunk together.


Kami bersaudara. 

Itupun salah satu alasan kenapa aku tidak lagi berusaha untuk mendekatinya, aku bisa saja mendapatkan apa yang aku mau sekalipun itu sulit, termasuk untuk merebut hatinya lagi, bukan hanya sekali atau dua kali, aku bukan pemain hati tapi aku tau cara mendapatkan banyak hati, apalagi orang seperti dia, mungkin akan mudah juga untuk bertemu, tidak perlu mencari alasan seperti kebanyakan hubungan yang lainnya, kita saudara bisa kapan dan dimana saja bertemu, tapi jeleknya adalah karena kita saudara dan ketika sebuah hubungan berakhir persaudaraan tidak akan pernah berakhir tapi akan ada sesuatu yang membentengi kita karena pernah ada sebuah hubungan. Berbeda cerita jika pernah punya hubungan dengan orang yang tidak pernah kenal sebelumnya, ketika berakhir pun tidak perlu atau tidak harus ada yang diperbaiki karena memang sebelumnya tidak saling mengenal. 

Itulah salah satu alasan kenapa aku tidak lagi mau mendekatinya, selain memang hal seperti itu sudah bukan prioritas lagi dalam hidupku.


No comments:

Post a Comment