Laman

Saturday, 8 June 2024

Jatuh Hati (part 10)

Jatuh Hati (part 10)


"Tidak ada yang sempurna sampai kamu jatuh cinta dengan mereka."

Plot-nya adalah aku tidak pernah jatuh cinta kepada mereka selain hanya sebatas jatuh hati, itu pun terjadi jika aku yang mau dan semuanya berlaku hingga aku yang memutuskan juga dalam ranah kapasitasku.


---


Punya 3 blog rudet juga. Yang satu tidak mungkin dan tidak akan pernah di spill, yang satu lagi Hidupku Just My Life aka "Nugraha is My Name" dengan alur cerita yang membosankan karena aku tidak bisa share di WhatsApp, tentu saja. Dan blog yang ini khusus ceritaku bersama orang-orang yang besar kemungkinannya akan selalu ada di setiap tulisan yang aku post. 


Sudah beberapa hari ini aku bertemu dengan orang di part ke 7

Aku pernah berkata agar kita mengalir saja, tidak perlu saling menggenggam. Aku takut nanti ada yang patah hati lagi. Kalau kamu butuh, aku ada. Kalau kamu rindu, aku disini. Hiduplah seperti sebelum kamu mengenalku. Karena aku pun akan memperlakukanmu seperti itu. 

Tapi memang salahku yang tidak pernah menutup hati untuk siapa pun. Bahkan dengan terang-terangan aku juga mengatakan untuk menerima yang datang entah siapa pun itu, termasuk kamu. 

Kita sudah pernah membuat cerita, dan aku pikir ceritaku bersamamu sudah usai. Tapi pada kenyataannya berkali-kali kamu selalu mendatangiku tanpa kontak atau kabar bahkan permisi terlebih dahulu, hingga menapakkan kedua kakimu di depan pintuku. 

Aku tidak bisa mengabaikan muka memelasmu itu, aku tidak bisa pura-pura tidak mengenalimu, aku tidak bisa membohongi perasaanku yang dengan sadar bahwa ketika aku sedang bersama orang lain pun terkadang masih memikirkanmu.


Aku bukan pribadi yang munafik untuk mengakui bahwa kamu juga sama seperti mereka. Mereka yang sama-sama masih dengan jelas berada dan tinggal dalam ingatan juga pikiranku bahkan dalam hatiku. Aku bisa dengan mudah untuk mengingat nama-nama kalian dari saat pertama aku mengenal apa itu kehidupan sampai ketika aku tidak lagi peduli apa itu rasa bahagia dan rasa sedih, hingga berakhir dengan langkahku yang tau dan mengerti bahwa cinta adalah hal terpenting yang harus aku hindari, dan aku mampu melakukannya. Karena aku bisa menyayangi seseorang dengan sebatas bukan lantas, karena semuanya hanya sebatas jatuh hati bukan lantas jatuh cinta. 


Hari Jum'at tanggal 7 Juni jam 2 siang, kamu datang dengan wajah muram yang sedikit  tertutupi oleh gerimis kecil kota Bandung. 

Dengan sengaja kamu membawa si Angga bocah kematian yang datang ketika butuh duit buat jajan doang, mungkin kamu jemput dia dulu agar aku tidak ada alasan untuk tidak membukakan pintu 'kan?

"Om, si Om Fz poho deui kadieu cenah. Om menta duit." ------ Wtf!!! 

Sejak kapan kamu dimensia? 

Bulan Mei juga rasanya baru berlalu beberapa hari. Masih ingat jelas rasanya kamu selalu duduk bersila memandangi jendela. Atau spot dimana kamu selalu bersandar sambil mendengarkan lagu juga bercerita bagaimana keadaanmu selama ini. 

Ayolah! Kenapa setiap kali bertemu sisi kekanak-kanakanmu selalu terlihat jelas? Selalu! 


Setelah bercerita semuanya, seperti biasa kita selalu menghabiskan waktu untuk mengelilingi tempat-tempat yang biasa kita datangi dulu. Tempat dimana terkadang ketika aku melewatinya bersama orang lain pun tidak pernah hilang ingatan bersamamu. 

Mungkin akan terdengar berlebihan, tapi pada kenyataannya ketika aku bersamamu pun aku masih bisa memikirkan orang lain. 

Aku sudah bukan di fase ingin menemani kesedihan dan kegembiraan orang lain lagi, karena semuanya hanya seperti udara bagiku.

Kalian memang ada, tapi aku tidak mampu untuk menggenggam, kalian memang aku butuhkan tapi aku tidak bisa melihat, aku tidak bisa menolak apalagi mengabaikan atau berlagak seolah kalian tidak pernah memberiku kehidupan, karena faktanya adalah kalian pernah ada disaat aku sedang hancur dan membantuku untuk kembali bangkit walaupun kemudian langkahku kembali tak lagi terarah karena mataku seperti anjing yang lapar. 


Aku bukan orang yang tepat untuk kembali dijadikan sebagai pasangan apalagi diajak untuk sebuah komitmen. Karena aku tidak mementingkan hal-hal seperti itu lagi. 

Makanya aku sudah mengatakan bahwa kita tidak perlu saling menggenggam lagi, aku takut akan ada hati yang patah lagi, entah itu hatiku atau hatimu. Tapi, kalau kamu butuh teman untuk berbicara dalam keadaan apapun, kamu tau dimana aku berada. Kalau kamu perlu orang untuk sebuah nasihat, aku selalu berusaha bijak entah itu sebagai teman atau kakak dan mungkin berlagak seperti ahli ibadah walau sesaat. 

Kamu cukup mengenalku dalam hal berkamuflase 'kan? 


Kamu fokus saja dengan orang yang baru, aku juga sedang belajar untuk fokus dengan kehidupanku dan beberapa orang yang lama juga yang baru. 


See you.


---


Pada akhirnya, yang benar-benar penting adalah bagaimana kamu menjalani hidupmu sendiri. Jadi lanjutkan, nikmatilah, jadilah orang yang kamu inginkan selama itu tidak merugikan orang lain. 

Wednesday, 5 June 2024

Jatuh Hati (part 9)

Jatuh Hati part (9)


Biarkan kosong, aku tidak ingin menyukai

seseorang lagi.

Biarkan kosong, aku tidak ingin lagi menyakiti diriku sendiri.

Biarkan kosong, aku tidak ingin memberi kesempatan kepada siapapun lagi.

Biarkan kosong, aku tidak ingin berharap pada apa yang tidak akan pernah menjadi milikiku.

Andai semudah itu. Karena pada kenyataannya aku masih jatuh hati kepadamu...juga kepada mereka.


---


Aku tau semuanya akan berakhir dengan sebuah kegagalan dan kesakitan, tapi aku merasa bahagia melakukan semua itu. Ini bukan tentang seberapa banyak kegagalan dan kesakitan yang akan aku lalui, tapi tentang seberapa kuat aku menjalani dan menerima semuanya. Dan faktanya aku selalu mampu melewatinya.


Ketika aku gagal dengan orang yang lama, apakah aku harus meninggalkannya? 

Ketika aku sakit dengan orang yang baru, apakah aku harus menggantikannya? 

Aku pikir tidak harus. Karena aku bukan pribadi yang menyukai perpisahan dan meninggalkan kenangan. Apalagi terpaksa harus melupakan banyak hal yang pernah terjadi entah itu sebentar atau waktu yang cukup lama.


Ketika aku gagal dengan orang yang lama dan ada saat dimana aku sedang memperbaiki hubungan dengannya, mungkin terasa cukup sulit karena sudah menyangkut karakter yang tidak bisa dia ubah dan hal itu tidak dapat aku terima. Mau tidak mau aku harus mengikuti alur yang ada, karena aku tidak akan pernah mau meninggalkannya hanya karena satu karakter yang ujung-ujungnya besar kemungkinan akan aku temui pada orang yang baru juga. 

Lantas kenapa aku selalu bertemu dengan orang yang baru? 


Namanya juga hidup, namanya juga manusia, namanya juga hubungan, namanya juga hati, namanya juga perasaan, dan semuanya tergantung waktu yang membawa ke bagian mana hingga akhirnya harus bertemu dengan siapa dan berakhir dengan sebuah jawaban yang sebelumnya sudah bisa aku duga akan seperti apa nantinya. Tapi aku menyukai dan menikmati proses itu. Karena aku pernah ada di fase paling berbahaya, yaitu ketika aku tidak merasakan apapun lagi. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Tapi yang ada hanya rasa hampa, dan kekosongan. 

Makanya aku selalu memilih untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak aku lakukan pun akan baik-baik saja. Tapi ada rasa khawatir jika suatu waktu aku bertemu dengan fase hampa dan kekosongan lagi. 


Segala hal yang terjadi dalam hidupku memang sudah seharusnya terjadi. Aku bertemu siapa, siapa yang aku sukai, siapa yang menyakitiku, dan siapa yang mengecewakanku. Semua sudah pasti ada sebab dan akibatnya. 

Selalu ada masa dimana aku mengagumi seseorang, jika bukan Dia yang menggerakkan hatiku, maka Dia ingin aku mengenalnya, dan bukan berarti dia akan menjadi takdirku. Entah dia datang sebagai pembelajaran atau menjadi sebuah ujian dalam hidupku. 

Mungkin memang ada sedikit keinginan untuk memilikinya, tapi sama halnya dengan menyukai laut yang tidak berarti harus menyelaminya. Begitupun dengan menyukai seseorang yang tidak harus memilikinya. 


Aku tidak munafik untuk mengakui bahwa aku pernah mengagumi bahkan menyukai seseorang seperti air laut, hatiku sudah pasang surut kerena pergulatan perasaanku sendiri, dan sayangnya air laut tidak pernah berubah rasa. 

Sama halnya dengan perasaanku. Entah sejauh apapun aku pergi untuk berlari agar tidak pernah bertemu dengannya lagi, entah bersembunyi dibalik logika untuk mencari yang baru, tapi perasaanku padanya tidak pernah berubah. Bahkan seiring berjalannya waktu, rasaku bukan malah memudar melainkan malah bertambah dan terus terpupuk dengan kerinduan yang semakin hari semakin mendalam.


Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika dia benar-benar mengetahui bahwa aku masih mengaguminya, menyukainya, jatuh hati padanya, bahkan selalu menginginkan untuk di dekatnya. 

Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu dia menerimaku dan aku bahagia akan momen itu tapi akan merasa sedih karena pada akhirnya akan ada sebuah perpisahan, atau dia menolakku dan aku merasa kecewa karena sudah mengungkapkannya hingga dia menjauh dan aku terus menyesali keputusanku, dan hal terburuk yang akan terjadi adalah aku akan kehilangan dia untuk selama-lamanya.

Makanya untuk sampai saat ini aku memilih untuk terus memendam semuanya hingga rasaku berubah menjadi keputusasaan juga kesia-siaan yang terus aku pertahankan. 


Aku akan tetap mengaguminya sampai pada titik paling lelahku, sampai pada saat dia yang memberi isyarat agar aku menjauhinya, hingga rasa sukaku berubah menjadi rasa tau diri.


---


Coba sekali saja kamu lihat ke arah mataku, lihatlah betapa kerasnya aku memendam semua hal yang membingungkan ini, hey HD.