![]() |
| Jatuh Hati part (9) |
Biarkan kosong, aku tidak ingin menyukai
seseorang lagi.
Biarkan kosong, aku tidak ingin lagi menyakiti diriku sendiri.
Biarkan kosong, aku tidak ingin memberi kesempatan kepada siapapun lagi.
Biarkan kosong, aku tidak ingin berharap pada apa yang tidak akan pernah menjadi milikiku.
Andai semudah itu. Karena pada kenyataannya aku masih jatuh hati kepadamu...juga kepada mereka.
---
Aku tau semuanya akan berakhir dengan sebuah kegagalan dan kesakitan, tapi aku merasa bahagia melakukan semua itu. Ini bukan tentang seberapa banyak kegagalan dan kesakitan yang akan aku lalui, tapi tentang seberapa kuat aku menjalani dan menerima semuanya. Dan faktanya aku selalu mampu melewatinya.
Ketika aku gagal dengan orang yang lama, apakah aku harus meninggalkannya?
Ketika aku sakit dengan orang yang baru, apakah aku harus menggantikannya?
Aku pikir tidak harus. Karena aku bukan pribadi yang menyukai perpisahan dan meninggalkan kenangan. Apalagi terpaksa harus melupakan banyak hal yang pernah terjadi entah itu sebentar atau waktu yang cukup lama.
Ketika aku gagal dengan orang yang lama dan ada saat dimana aku sedang memperbaiki hubungan dengannya, mungkin terasa cukup sulit karena sudah menyangkut karakter yang tidak bisa dia ubah dan hal itu tidak dapat aku terima. Mau tidak mau aku harus mengikuti alur yang ada, karena aku tidak akan pernah mau meninggalkannya hanya karena satu karakter yang ujung-ujungnya besar kemungkinan akan aku temui pada orang yang baru juga.
Lantas kenapa aku selalu bertemu dengan orang yang baru?
Namanya juga hidup, namanya juga manusia, namanya juga hubungan, namanya juga hati, namanya juga perasaan, dan semuanya tergantung waktu yang membawa ke bagian mana hingga akhirnya harus bertemu dengan siapa dan berakhir dengan sebuah jawaban yang sebelumnya sudah bisa aku duga akan seperti apa nantinya. Tapi aku menyukai dan menikmati proses itu. Karena aku pernah ada di fase paling berbahaya, yaitu ketika aku tidak merasakan apapun lagi. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Tapi yang ada hanya rasa hampa, dan kekosongan.
Makanya aku selalu memilih untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak aku lakukan pun akan baik-baik saja. Tapi ada rasa khawatir jika suatu waktu aku bertemu dengan fase hampa dan kekosongan lagi.
Segala hal yang terjadi dalam hidupku memang sudah seharusnya terjadi. Aku bertemu siapa, siapa yang aku sukai, siapa yang menyakitiku, dan siapa yang mengecewakanku. Semua sudah pasti ada sebab dan akibatnya.
Selalu ada masa dimana aku mengagumi seseorang, jika bukan Dia yang menggerakkan hatiku, maka Dia ingin aku mengenalnya, dan bukan berarti dia akan menjadi takdirku. Entah dia datang sebagai pembelajaran atau menjadi sebuah ujian dalam hidupku.
Mungkin memang ada sedikit keinginan untuk memilikinya, tapi sama halnya dengan menyukai laut yang tidak berarti harus menyelaminya. Begitupun dengan menyukai seseorang yang tidak harus memilikinya.
Aku tidak munafik untuk mengakui bahwa aku pernah mengagumi bahkan menyukai seseorang seperti air laut, hatiku sudah pasang surut kerena pergulatan perasaanku sendiri, dan sayangnya air laut tidak pernah berubah rasa.
Sama halnya dengan perasaanku. Entah sejauh apapun aku pergi untuk berlari agar tidak pernah bertemu dengannya lagi, entah bersembunyi dibalik logika untuk mencari yang baru, tapi perasaanku padanya tidak pernah berubah. Bahkan seiring berjalannya waktu, rasaku bukan malah memudar melainkan malah bertambah dan terus terpupuk dengan kerinduan yang semakin hari semakin mendalam.
Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika dia benar-benar mengetahui bahwa aku masih mengaguminya, menyukainya, jatuh hati padanya, bahkan selalu menginginkan untuk di dekatnya.
Ada dua kemungkinan yang akan terjadi, yaitu dia menerimaku dan aku bahagia akan momen itu tapi akan merasa sedih karena pada akhirnya akan ada sebuah perpisahan, atau dia menolakku dan aku merasa kecewa karena sudah mengungkapkannya hingga dia menjauh dan aku terus menyesali keputusanku, dan hal terburuk yang akan terjadi adalah aku akan kehilangan dia untuk selama-lamanya.
Makanya untuk sampai saat ini aku memilih untuk terus memendam semuanya hingga rasaku berubah menjadi keputusasaan juga kesia-siaan yang terus aku pertahankan.
Aku akan tetap mengaguminya sampai pada titik paling lelahku, sampai pada saat dia yang memberi isyarat agar aku menjauhinya, hingga rasa sukaku berubah menjadi rasa tau diri.
---
Coba sekali saja kamu lihat ke arah mataku, lihatlah betapa kerasnya aku memendam semua hal yang membingungkan ini, hey HD.
